Tuesday, 27 September 2011

Melow Day

This is the story :)

Barusan Bunda nangis. Nnagis karena kangen Azka. Tadi malem Bunda dan Abi pulang malem, dan Azka udah bobo. 

Selain nangis ini, juga karena satu kelemahan Bunda yang masih perlu dilatih berkali-kali. Yaitu kepercayaan diri Bunda.

Jadi gini... Bunda di-assign oleh manager Bunda untuk suatu tugas. Biasanya tugas itu dilakukan oleh dept lain.Nah, Bunda lakukan sebisanya apa yang bisa Bunda lakukan. Dan yang dari dept lain pun terbantu dengan sangat, karena loads-nya pun sedang over. Tapi... Bunda rada heran juga, atasan Bunda menanyakan lagi, kok yang mengerjakan tugas itu Bunda, bukannya oleh dept lain itu? Wah, kalau udah gini, Bunda khawatir aja kalo kesannya Bunda 'nyerobot' kerjaan orang. Sungguh, ga maksud untuk itu, apalagi melanggar wewenang. Nggak.

Ahh sudahlah.. Bunda udah lega nulis ini. Dan Bunda pun udah cerita sama Abi tentang hal ini. InsyaALLAH Abi setuju, selama ada assignment ya dikerjakan.

Bismillaahirrahmaanirrahiim. Dan Bunda bersyukur ALLAH memberikan cukup kemudahan untuk Bunda melaksanakan tugas tersebut. Moga ini menjadi baik dan berkah untuk semuanya ya.

Amien

Monday, 19 September 2011

Mendingan Buat Beli Beras

This is the story :)

Selepas Maghrib, kami berkumpul di ruang tengah. Ada Akung lagi duduk dengan bantal pijatnya, Uti sedang membereskan kuitansi pembayarantetek-bengek rumah, Azka lagi main, Tante Arie lagi wira-wiri ngeberesin keperluannya dinas ke Bogor, Rusyda yang juga sedang ngelihatin Azka main. Bunda di dekat Azka, duduk lesehan bersandar ke tembok sambil membaca buku barunya Tante Arie : Sahabat ... Salam Indonesia Bunga Rampai SMS Dr. Darwin Zahedy Saleh (2008 - 2011).

Bunda : De, bukunya gue baca duluan deh. Gue lagi ga ada bacaan nih, buat baca di motordaripada gue ngantuk.

Tante Arie : No respon

Akung : Itu loh... Prabowo nulis buku, terus terbit lagi bukunya Wiranto, terus ada lagi ga balasannya?
(Note : Akung emang kelihatan suka denan buku-buku yang beraroma politik / sejarah yang seperti ini).

Bunda : Yah Pak... Buku kaya begitu mah pusing doang, mendingan beli novel Pak. Novel klasik Jane Austen masih lebih bagus.

Uti (nyeletuk dengan asiknya) : Mendingan juga beli beras. Tuh beras abis tuh.

Bunda : Ha..ha.. Berarti profit aku jualan lulur buat beli beras dunk Bu.

Ya ampyuuunnn... emang common banget sih tipe ibu-ibu kaya Uti ini. Lebih prioritas dapur ngepul. Eh,  bukannya Bunda ga mentingin dapur ngepul lho... Tapi maksudnya, harusnya dapur dan 'bacaan' bisa in line derajatnya. Keduanya sama penting.Kalau Uti sih, dapur dan fashion yang inline. Tipe orang emang beda-beda ya :)

Merefleksi reaksi Uti yang kaya tadi, Bunda jadi ga heran kalau minat bangsa ini terhadap bacaan atau buku belumlah setinggi bangsa lain yang maju, apalagi sesuai dengan standar tuntunan islam.Dalam islam, membaca, dalam konteks membaca aksara atau mengamati alam, menjadi wahuy pertama surat Al Quran. membaca, seperti dua sisi mata uang dengan menulis. Dan di Al Quran pun Al 'Alaq mempunyai tandem, yaitu surat Al Qalam.

kalau bicara literatur islam, SUBHANALLLAH... merinding. Ambil aja satu contoh. Tafsir Fi Zhilalil Quran yang ditulis Sayyid Qutb. Cetakan sekarang ada 13 jilid, dan masing-masing jilid ada 630 an - 920 an halaman. SUBHANALLAH....Beliau menuliskan dalam jangka waktu sepuluh tahun selama di penjara sebelum akhirnya bertemu syahid di tiang gantungan.

Kalau menulis buku itu, mungkin analoginya seperti air yang dituang dari poci. Kalau mau menuang 100 ml, poci itu musti memiliki (minimal banget) 100 ml. Itu belum termausk adhesi-mya titik-titik air yang nempel di dinding poci, let's say 1 ml lah. Nah... bayangkan, apabila seorang Sayyid Qutb bisa menulis 13 jilid, dengan rata-rata 600 - 900 halaman, bagaimana dengan kedalaman ilmunya?

Itu Sayyid Qutb lho, hamba ALLAH yang shaleh...Bayangkan lagi, bagaimana kedalaman ilmu yang terkandung dalam Al Quran dan yang 'dijembreng'kan ALLAH di alam semesta ini, No words can describe it. 
QS Luqman (31) : 27
Dan seandainya seluruh pohon yang ada di bumi berubah menjadi pena, dan seluruh air laut yang sangat banyak itu menjadi tinta untuk digunakan untuk menuliskan ilmu Allah (kalimt), niscaya pena-pena itu akan rusak dan air laut itu akan habis sebelum habisnya ilmu Allah. Karena Allah Mahaperkasa, tidak ada sesuatu pun yang dapat mengalahkan-Nya; Mahabijaksana, tidak ada sesuatu pun yang keluar dari ilmu dan hikmah-Nya. Maka ilmu dan hikmah- Nya tidak akan ada habisnya. 
Inget juga lirik nasheed nya Gradasi :
How great our Lord creates it
Words can never can describe it
....
See... Jadi bagaimana kita mau belajar ilmu-ilmu ALLAH untuk lebih cinta padaNya, kalau disebut 'kunci' nya aja, yaitu membaca, kalah dengan urusan beras?

MK C3 - C4

Ada Prosesnya

This is the story :)

Pagi ini, ALHAMDULILLAH Bunda berkesmpatan membca artikel di bawah ini. Terus, langsung Bunda merasa nyess, karena yang disampaikan di artikel ini juga pernah dibahas di komunitas menulis Bunda.

Memang, akhir-akhir di Indonesia ini banyak bermunculan penulis-penulis baru. Bahkan banyak pula penulis-penulis yang produktifitasnya sangat tinggi. Tapi, melihat jenis produknya sedemikian tadi, ada rasa miris melihatnya. Ternyata fenomena banyaknya muncul penulis baru, tidak serta merta membawa angin segar kemajuan dunia literasi di Indonesia. Ya, karena ternyata banyak penulis yang tidak tahu bidang apa yang seharusnya ia tulis.

Ini kutipan lainnya ...
Background penulis harus diperhatikan oleh seorang penulis ketika akan menulis. Karena kualitas bobot dari tulisannya apakah bisa dipertanggung jawabkan atau tidak, itu berasal dari sejauh mana penulis menggelutinya. Jika tidak intens menggelutinya dan dengan mudahnya ditulis begitu saja, tentu akan sangat membahayakan pembacanya.

Artikel lengkap dengan judul 'Penulis dan Tulisannya' yang ditulis R.W. Dodo (Direktur Literary Agency Mata Pena Writer) ada di sini.

Untuk sementara ini, Bunda lagi ga kepengen comment. Bunda hanya ingin bersyukur bahwa ALLAH memberikan Bunda suatu 'bacaan' yang membuat Bunda semakin percaya bahwa sesuatu itu harus mengikuti prosesnya. Ga bisa instan. Dan yang lebih cihuyyy, ALLAH memberikan nilai untuk proses yang kita lakukan, bukan untuk hasil yang kita (insyaALAH) akan raih,

ALHAMDULILLAH...

MK C3 - C4

Friday, 16 September 2011

What If Wrong and The Other What

This is the story :)


What if...
I quit my job and start the job I love?


What if ...
The bread only comes from a winner.


What if...
There is no more Azka's crankies in every morning I go to the office.


What if...
I keep asking myself whether I am ready or not, to deal with every household things.


What's wrong ...

With my envious of seeing several office mates who signed out this year.


What's wrong ...
My 'weak' calculation tells me that my family still needs the numbers I earned.


What a gorgeous thing if I play my current role and thank God for every happiness and blessed HE bestowed us.


Thursday, 15 September 2011

Ibu Bekerja (Ngantor di Luar Rumah) Itu Kesalahan?

This is the story :)

Semalam di kamar Uti yang sejuk, sambil nemenin Azka dan Rusyda bermain, Bunda dan Tante Arie terlibat diskusi yang tidak berimbang. Maksudnya ... banyakan Tante Arie yang ngomong, sedangkan Bunda mendengarkan. Ini dia isi diskusi antara Bunda (B) dan Tante Arie (A)

A : Gue sebel deh, kalo gue udah pulang, terus Mba Diah masih handle Rusyda. Gue tuh maunya kalo gue di rumah, semua urusan Rusyda gue handle sendiri. Bikin susu, pipis, maen, apapun.

B : Ya... Mba Diah kasian kali sama lo. Baru pulang kerja, cape, udah digerecokin Rusyda. Mungkin Mba Diah pengenkasih loe waktu untuk mandi dulu, shalat, makan, kalo udah rapi baru deh lo handle Rusyda.

A : Gue sih ga masalah dengan gue cape karena pulang kerja. Gue rela berepot-repot untuk Rusyda. Apalagi yang bisa gue bayar untuk dia. Bekerja di luar aja udah kesalahan. nah, apalagi kalau waktu gue hanya sedikit yang dihabiskan untuk Rusyda? Gue takut Rusyda lebih milih Mba Diah daripada gue.

B (dalam pikiran n hati)  : hm... gue sih ga papa Azka dihandle sama yang lain dulu selama gue 'membereskan' diri gue. Kok mikirnya sebegitunya yah?

B : Ya nggak lah. Azka juga kalo gue pulang langsung gelendotin gue. Langsung ga mau sama siapa-siapa. Padahal seharian maen sama nyokap n Mba Upi.

A : Ya itu kan Azka.

A : Terus gue juga paling sebel kalo misalkan anak ga mau pake baju, ga mau makan, terus mba nya yang ngalokin. Sini, sama mba aja. Tugas ibu tuh ngurusin anak, pake baju, makan, sampe bener-bener beres.

B (salam pikiran n hati) : oh gitu ya. ha..ha.. Gue santai dunk. kalo Azka ga mau gue suapin atau dipakein baju, terus mempan sama Mba Upi, ya udah... yang penting goalnya tercapai : dia makan, baju kepake.

B : Hm...

Kemudian diskusi berhenti karena Azka mulai rewel dengan mainan sajadah Uti yang dibuat menjadi jalanan mobil. Hm.. kayanya Azka udah ngantuk. Dan diskusi pun tidak menghasilkan suatu komitmen baru untuk Bunda. he..he..

Malamnya, Bunda share diskusi ini ke Abi. Tanggapan Abi (Bunda ga bilang Abi atau Bunda bener, tapi Bunda sepaham dengan pemikiran Abi).Ini tanggapannya ,,,

Bekerja di luar aja udah kesalahan. nah, apalagi kalau waktu gue hanya sedikit yang dihabiskan untuk anak?
Jadi Uti dulu bekerja itu kesalahan?
Kalau ga berkeja gimana, kalau ga bisa kuliah, lebih kesalahan juga atau ngga?

Terus gue juga paling sebel kalo misalkan anak ga mau pake baju, ga mau makan, terus mba nya yang ngalokin. Sini, sama mba aja. Tugas ibu tuh ngurusin anak, pake baju, makan, sampe bener-bener beres.

Abi : Ga bisa gitu. Anak ga bisa dikekang dia maunya apa. Kalau suatu waktu dia lagi mau sama orang lain yang bukan ibunya, ya biarkan saja.

Bunda : Iya ya Bi... toh tetep aja kok posisi kita sebagai ibu ga tergantikan. Azka tetep aja gelendotan cari aku. Biarpun Ibuku dulu kerja, rasa respect aku dan posisinya sebagai Ibu juga ga tergantikan kok, sama orang lain.

Abi : Yah.. pikiran orang beda-beda sih ya. Mungkin Arie sangat idealis.

Bunda : Iya.. kalo kita nyantai ya Bi. he..he..

So, lagi-lagi, jangan membuat sulit posisi 'ibu yang bekerja' ya. Semuanya ada porsi dan kepentingan masing-masing. Menjadi ibu rumah tangga adalah dambaan pekerjaan setiap ibu pastinya. Namun, suami - istri yang menyepakati istrinya untuk juga menjadi 'bread winner' tetaplah hal yang musti dihargai.

Ya ALLAH... kami mohon ridhoMu untuk apa yang kami (para istri) kerjakan untuk keluarga (suami dan anak) kami Ya ALLAH. Amien.Ya Robbal Alamiin.

MK C3-C4


Wednesday, 14 September 2011

Bidadari-Bidadari Surga by Tere Liye

This is the story :)

 Bunda coba re-tell ya... tentunya dengan versi dan sudut pandang Bunda.

Bidadari-Bidadari Surga (kita singkat BBS ya...) menceritakan perjalanan hidup keluarga Mamak Lanuri. Tokoh yang ditonjolkan dan yang dijadikan BBS di sini adalah Kal Laisa.

Mamak Lanuri tinggal di lembah Lahambay. Ia menikah pertama kali dengan duda beranak satu usia enam bulan. Usianya waktu pertama menikah adalah 16 tahun. Duda itu diceritakan sebagai suami yang tidak bertanggung jawab. Kerjanya hanya mabuk, dan berjudi. Harta peninggalan keluarga Mamak Lanuri yang banyak itupun habis untuk digadaikan karena kebiasaan judinya. Istri pertama dari duda itu juga meninggal karena ulahnya.

Bayi bawaan duda itu bernama Laisa. Usianya enam bulan. Mamak Lanuri sayang sekali padanya, merawat bagai anak sendiri. Saat Laisa usianya dua tahun, duda itu meninggalkan Mamak dan Laisa. Mamak terus bertahan hidup, mengasuh Laisa, hingga tiga tahun kemudian, saat Laisa berusia sekitar enam tahun, Mamak menikah lagi.

Mamak Lanuri kemudian menikah lagi dengan Babak. Keluarga ini dikaruniai empat orang anak : Dalimunte, Ikanuri, Wibisana, Yashinta (btw, namanya kok panjang panjang yah. he..he..). Mereka hidup dalam kesederhanaan di Lembah Lahambay.

Keluarga ini dibesarkan dalam culture yang sangat baik : taat pada ALLAH (termasuk di dalamnya bersyukur, tidak mengeluh, sabar), suka bekerja keras, pantang mencuri, ringan tangan menolong sesama.

Saat Mamak sedang hamil anak keempat (yashinta), Babak Meninggal diterkam harimau di Gunung Kandeng. Sejak saat itu Mamak semakin bekerja keras memghidupi keluarganya, termasuk untuk menyekolahkan anak-anaknya. Sampai pada suatu waktu, Saat Laisa berumur sebelas tahun (kelas empat), Laisa meminta pada Mamak untuk berhenti sekolah. Hal itu dilakukan agar Dalimunte yang usianya tujuh tahun bisa masuk sekolah. Begitu pun dengan ketiga adiknya yang lain. Laisa sadar bahwa mamaknya tidak punya cukup uang untuk menyekolahkan mereka berlima. Dan karenanya Laisa mengalah dan memutuskan membantu Mamak.

Note : Hm... in the real world beneran ada ga sih... anak sebelas tahun udah bisa ngalah seperti ini dan berfikir dewasa kaya gini? Subhanallah... 2 thumbs up untuk yang mendidiknya.

Selanjutnya cerita mengalir dengan penggambaran keseharian hidup mereka. Buanyyaakk banget ceritanya. Ada jadwal rutin Mamak yang bangun pagi sekali, merebus gula aren, dan seterusnya, ada Dalimunte yang udah hobi bikin eksperimen kincir air untuk irigasi, ada Ikanuri dan Wibisana yang badung yang suka kabur bolos sekolah, ada Yashinta yang senang sekali tiap diajak jalan-jalan Laisa ke hutan.

Waktu berjalan, dengan kedisiplinan (mungkin tepatnya galak kali yah..) Laisa mendidik adik-adiknya menyelesaikan sekolah, semua adik-adiknya sukses menamatkan sekolah. Bahkan Dalimunte sudah meraih gelar Doktor dan Profesor, Yashinta lulus gelar master di Belanda, Ikanuri dan Wibisana (yang passion nya ngutak-ngatik mesin mobil) 'terpaksa' lulus S1 juga.

Oh ya... sebelum lupa. Bunda cerita dulu profil nya Laisa ini. Dia perempuan pekerja keras. Dia sangat dekat dengan alam. Dia sangat menyayangi adik-adiknya, bahkan rela berkorban untuk adik-adiknya. Perawakan tubuhnya tidak tinggi, agak gemuk, kulit gelap. Atau kalau dideskripsikan secara umum, Laisa bukan termasuk perempuan cantik (cantik dengan kriteria kulit putih, hidung bangir, rambut panjang, tinggi semampai, bisa meringkik.eh maaf, abis Bunda suka sebel sama stereotype perempuan cantik dengan definisi yang disebuttkan tadi.)

Saat semua adik-adiknya sudah mapan, Laisa pun sudah menunjukan eksistensi diri dan kesuksesannya di Lembah Lahambay itu. Kebun strawberry nya berhektar-hektar (hasil kerja kerasnya belajar bertanam strawberry dari kakak-kakak kuliah yang KKN), rumah Mamaknya sudah mulai diperbaiki, mengelola sekolah untuk anak-anak. Tapi... saat satu persatu adiknya menemukan tambatan hati, Laisa tak juga bertemu dengan jodohnya. Nah... bagian ini yang  ditulis sangat jujur dan natural, untuk semua tokoh-tokohnya. Hm.. kenapa Bunda concern di bagian ini, karena Bunda dikelilingi teman-teman yang sudah 'berumur' yang -pastinya atas kehendak ALLAH- belum bertemu jodohnya.

Sssttt... Bunda juga pernah berada di fase ini. he..he.. Dan pernah ada rasa ketidaknyamanan juga berada di fase ini. Tapi ALHAMDULILLAH, pas usia Bunda 27 tahun, doa Bunda dijawab ALLAH dengan menghadirkan seorang Abi yang ganteng, tinggi, gagah eh maksudnya Abi yang sholeh, lembut, perhatian, penyayang, humoris, senang bantu istri dan keluarga istri, generous, ga doyan buku dan baca. brand-minded untuk baju kaos dan celana jeans nya, ngefans manchester united, mantan drummer dengan temen-temen rumahnya, ha..ha.. ada sesuatu bangett deh antara Bunda dan Abi  (LOL)

Lanjoooottt....


Keempat adik Laisa ini, demi mengetahui pengorbanan Laisa yang begitu besarnya untuk mengantarkan mereka pada gerbang kesuksesan, enggan melintas (istilahnya ngelangkahin atau menikah duluan sebelum kakaknya menikah) Laisa. Nah, di sini Tere Liye mampu menggambarkan Laisa yang berimbang. Laisa yang diam-diam suka memandang kebun strawbery, yang berfikir juga tentang jodohnya, Laisa yang rasional yang ga mau mikirin apa yang dipikirin orang mengenai statusnya sebagai 'gadis tua', dan dari ke-rasionalan yang bijak iu kemudian lahir keikhlasan Laisa untuk dilintas oleh keempat adiknya. Ini kalimat yang Bunda suka dari laisa :

Buat  apa  kau memikirkan  apa  yang  dipikirkan  orang  atas  pernikahan  kau.  Buat  apa  kau  memikirkan  apa  yang  dipikirkan  orang  atas  Kakak-mu.  Buat  apa  kau  memikirkan
kekhawatiran,    rasa  cemas,    yang  sejatinya  mungkin  tidak  pernah  ada.  Hanya  perasan-
perasaan. Lihatlah, Kakak baik-baik saja.
Selain itu, di Bab 27, lebih detail lagi mengenai perasaan Laisa tentang kesendiriannya. Tapiiii bukan perasaan melankolis, cengeng, menye-menye lho. Ini perasaan yang hm... rasional, yang nyadar bahwa apapun stuasi Laisa sekarang, dia masih punya banyak hal yang musti disyukuri pada ALLAH. Selengkapnya, silakan baca sendiri yah....

Dalimunte, adiknya, enggan melintas Laisa. Bahkan sampai Cie Hui, wanita pujaan hatinya hendak berangkat ke China untuk dijodohkan oleh kerabat orang tuanya. Akhirnya Dalimunte pun melamar Laisa, last minute saat keluarga Cie Hui memasuki 'belalai pesawat'.

Ikanuri dan Wibisana pun 'terpaksa' melamar gadis pilihan mereka. Ini juga setelah Laisa mengatakan bahwa kalau keduanya ingin melihat Mamaknya -yang waktu itu sedang sakit- bahagia, maka segeralah menikahi gadis pilihan mereka itu.

Nah, untuk Yashinta, pernikahannya menjadi ending cerita pada ending kehidupan Laisa. Silakan dibaca sendiri di bab 44. Bab yang sukses membuat Bunda berlinang air mata.

Lalu, bagaimana dengan ikhtiar menjemput jodoh untuk Laisa?

Bunda seneng waktu ada bagian Laisa 'gagal' bertaaruf sama temannya Dalimunte, duda tanpa anak. Dikisahkan temannya Dalimunte itu adalah seniornya di kampus dulu. Orangnya  shalih, aktif di masjid kampus -please note this!!!-, dan mempunyai pandangan bahwa kriteria wanita pilihan untuk dijadikan istri adalah cantik akhlaknya. Dalimunte girang banget ada pria yang seperti ini. Menurutnya temannya ini cocok dengan Laisa yang salihah. Setelah membaca biodata Laisa dan melihat fotonya, temannya mengiyakan untuk bertemu Laisa. Namuuunnnn.... ketika bertemu, temannya itu menolak taaruf tersebut. Udah gitu, alasan yang dipakai harus pulang mendadak isi ceramah. 2 thumbs up buat tere Liye yang berhasil mengangkat fenomena ini di novelnya. Emang nyebelin. Hipokrit. Katanya mentingin akhlak n keshalihan, tapi mana dunkk... tetep aja cantik. tinggi semampai, kuning langsat bisa meringkik jadi kriteria pertama laki-laki, pun termasuk aktivis masjid kampus.

Di sini Tere Liye menggambarkan Dalimunte yang sebelll dengan temannya itu. Karena 3 kriteria perempuan yang baik menurut Nabi sudah ada pada Laisa : shalih, nasabnya baik, bermateri bagus (punya kebun strawbery 2000 hektar).  Ini ada di bab 29 ya.
"Bukankah  Kak  Laisa  'cantik'  seperti  yang  kau  sebutkan  selama  ini  dalam  ceramah-
ceramahmu. Apalagi  yang kurang!" Dalimunte  sedikit  tersinggung, berkata ketus esok pagi
saat menyuruh salah satu sopir perkebunan mengantar kenalannya tersebut kembali lebih dini
ke kota provinsi.
"Tapi maksudku, setidaknya cantik adalah menarik hati" 
Cuuaaapppeee deyyyy.

Lalu selanjutnya, Tere Liye mengangkat isu poligami. Laisa akan dijadikan istri kedua oleh temannya Dalimunte. Poligami karena disuruh istri pertama yang belum dikaruniai keturunan.Poligami yang 'terpaksa' dilakukan karena ingin menuruti perintah istri pertama, meski sangat berat menjalankannya. Akhirnya temannya itu setuju untuk melanjutkan proses taaruf. Tapiiii... saat yang bersamaan, ada kabar bahwa istri pertamanya hamil muda. Temannya pun mengurungkan niat berpoligami, bahkan walau istri pertamanya tetap menyuruh untuk poligami.

Nah, mungkin ini gambaran poligami yang 'indah' kali yeaa...

Yang terakhir adalah ada orang yang serius melamar Laisa. Semuanya nampak sempurna. Tapi ketahuan bahwa dia adalah buronan yang menikah karena untuk mengeruk harta istrinya.

Itulah yang bisa Bunda re-tell. Sorry, alurnya loncat-loncat dan acak-acak. Walaupun dengan gaya penceritaan alur campuran (ada mundur dan maju), cerita ini ga akan dilepas dari pertama kita membacanya.

Bunda suka dengan cerita ini karena :
1. Banyak lessons yang disampaikan : Taat pada ALLAH, kerja keras dan optimis, bersyukur, sayang keluarga, ringan tangan untuk membantu sesama, empati tinggi pada sesama.
2. Watak yang digambarkan pada tiap tokoh natural. Ada good and bad character.
Note : Bunda kurang suka kalau ada cerita yang tokohnya too good to be true.
3. Latar tempat dan waktunya detail.
4. Ga ada roman cinta menye-menye. he..he..
5. Bertaburan nasihat untuk pembaca tapi tidak mengurui. Terutama pelajaran mengenai syukur atas apa yang sudah dberikan ALLAH untuk kita.
Biasanya, kita seringnya mengeluh apa yang tidak kita unya, instead of mensyukuri apa yang ada pada kita, yang jumlahnya jaaauuuuhhhh lebih banyak.

Yang agak jadi pertanyaan Bunda nih :
1. Bunda belum nangkep latar belakan keempat kakak beradik ini bisa capcus menghentikan semua aktivitas mereka saat telepon dari Mamaknya (baik itu call atau SMS masuk).
Apa karena kabar 'darurat' bahwa Laisa sakit parah, atau memang ini menjadi culture keempat kakak beradik itu kalau ditelepon mamaknya pasti langsung meluncur ke TKP. Kalau menjadi culture keluarga ini, bagaimana cara mendidiknya? Sebab yang Bunda temukan (termasuk Bunda pribadi) terkadang hedonitas atau kesibukan duniawi untuk kepentingan kita pribadi seringnya mendapat posisi prioritas yang lebih tingi?
eh,,, ga penting juga sih pertanyaan Bunda, ga ganggu alur cerita kok. he..he.. Bunda wandering ajah.

2. Waktu Ikanuri dan Wibisana di Itali, lagi ada champions Juventus VS MU, ada umpatan 'sepakbola sialan' dari Ikanuri. Well, is that true or could that be happen? Cowok gitu lho... Di negeri surga bola... Merasakan crowdnya hingar bingar final piala champions?
Ini juga ga penting juga sih pertanyaan Bunda, ga ganggu alur cerita kok. he..he.. Bunda wandering ajah.

3. Endingnya Laisa meninggal karena kanker paru-paru stadium 4. Well, imagine... di area dengan udara bersih, gaya hidup sehat, fisik bergerak aktif, lalu ujug-ujug kena kanker paru-paru. Mungkin kalau dijelaskan ada 'habit' nya Laisa atau ada kondisi lingkungan yang bagaimana yang menyebabkan Laisa sakit kanker paru-paru, mungkin lebih enak kali ya. Emosi kita ga terlalu terguncang.
Hadeouuuhhh plis deyh Bunda.... bisanya comment ajah.
 
Yang kurang Bunda suka. Hm... apa yah... mungkin judulnya kali ya. BBS itu kok rasanya ngawang-ngawang banget, alias a bit fantasy, a bit imajiner getuh. It's too perfect to be presented, walaupun itu bisa ditemukan di sosok Laisa. Cuma... gimana ya??? Apa ini karena Bunda yang kurang imajinatif?

Overall, everyone must read the book. Kueeereen Abis. Standing applause buat Pak Tere Liye.

Ada sesuatu bangettt dengan buku ini.
[LOL tiap menuliskan 'sesuatu banget']

MK C4.

Membaca Novel Bidadari - Bidadari Surga

This is the story :)

Sebelum Membaca

Bunda lagi browsing-browsing tentang novel Indonesia. Lalu ketemu blog ini, dan menyebut beberapa penulis novel Indonesia yang saat ini menjadi perbincangan : Tere Liye, Ahmad Fuadi, Fahd Djibran.

Untuk Ahmad Fuadi, novelnya memang menjadi kandidat must have dan  must read untuk Bunda. ga papa telat, yang penting bakalan punya novel. he..he..

Untuk Fahd Djibran, Bunda baru denger namanya. Tapi kayanya mau baca bukunyajuga.

Untuk Tere Liye, tiap kecimpringan ke toko buku, Bund audah lihat buku-bukunya berjejer. Tapi ga tau kenapa, Bunda ga ignore sama buku Beliau. Nah, berhubung namanya kali ini disebut, Bunda coba browse lebih dalam tentang Beliau.

Selain Bidadari-Bidadari Surga, novel Tere Liye yang ngetop adalah Hafalan Shalat Delisa. Bunda cukup penasaran dengan Bidadari-Bidadari Surga. Tadinya, melihat judulnya, Bunda pikir, novel ini bercerita tentang wanita muslimah yang shalihah, cantik, taat suami, too good to be true lah, lalu karena satu dan lain hal, dia mengorbankan sesuatu yang sesuatu itu menjadi prasyarat masuknya surga.Atau cerita yang so - so gitu deyh.

Tapi ternyata Bunda salah besar!!!

Kemudian, dengan tidak mengurangi rasa hormat, Bunda download ebooknya. -senenggratisan mode on-.

Proses Membaca

Ebooknya terdiri dari 136 halaman. Tulisannya lumayan rapat. Bunda sebenernya bukan tipe pembaca digital. SOmehow, lebih enak baca buku yang berkertas daripada buku digital kaya gini. Tapi, dari awal baca novel ini, perhatian Bunda seakan manteng di sini. Hm... ALHAMDULILLAH juga sih, load kerjaan lagi medium aja.

Sore hari menjelang jam 4 Bunda belum selesai baca. Tadinya Bunda mau pulang sendiri naik kerea, tapi demi pengen lebih tau cerita novel ini, Bunda memutuskan untuk tunggu Abi yang lembur sampai jam 7. Akhirnya menjelang jam 7 malem, Bunda nyampe di halaman 113-an.

Selama membaca novel ini, kadang Bunda tertawa, memuji (ih keren...bener banget...) ada juga sih yang melipat dahi. Tapi dikit ajah.

Tadi pagi, sambil sarapan dan sedikit ngobrol sama temen Bunda, Bunda terusin lagi baca novelnya. ALHAMDULILLAH kelar juga. 

Setelah Membaca

Di halaman 136, tangankiri Bunda ambil tissue. Air mata udah mulai ngembang di mata. Tau-tau setetes, dua tetes, ngacir aja tuh air mata. Bunda diketawain sama temen Bunda, Mba Ambar yang tau dari kemaren Bunda lagi 'khatamin' novel.

Terus ga lama lagi temen Bunda yang namanya Maya dateng, Bunda kasih tau aja... 'May, gue abis nangis nih. Baca novel keren banget. Gue kirim ke lo ya.'

Si Maya bilang... 'Gue sih belom pernah sampe nangis gitu Mba. Kalo film sih iya. coba aja deh.'

Dan langsung sent ke Maya.

Jadi... menurut Bunda pribadi yang (sok) melankolis phlegmatis ini, novel ini adalah kategori must read.

InsyaALLAH Bunda akan posting daleman novelnya di post yang lain.
Powered By Blogger