Thursday, 4 June 2015

Persiapan Ramadhan Azka

This is the story :)

Abi : Azka, bentar lagi Ramadhan, bulan puasa, Azka ikut puasa ya.
Azka : Nggak ah..
Bunda : Kenapa?
Azka : Lah ntar kalo aku haus gimana?
Abi : Ga papa, tahan aja.
Bunda : Iya, puasa memang begitu, biar kita bisa ngerasain lapar dan haus orang-orang dhuafa, yang ga bisa beli minum atau beli makanan.
Azka : Ya udah deh.. aku puasa. Tapi sekali aja yah?
Bunda : yah, sebulan dong.
Azka : Ngga ah. males.
Bunda : *nyengir sambil puterr otak cari cara supaya Azka mau puasa*

Inilah uniknya anak-anak. Pikirannya polos, simple. Untuk Azka yang senang permainan outdoor (sepeda, cari daun celotekan, gali-gali pasir, main perang-perangan, dan lain lain), dan yang tiap pulang bermain langsung menyerbu segelas susu dingin, wacana puasa seakan menjadi hal yang 'wah' untuk dia.

Sebagai orang tua, tentulah ini PR untuk kami agar bisa memotivasi Azka untuk ikutan puasa. Rasanya, tidak masalah juga jika kami menjanjikan reward untuk Azka. Reward adalah salah satu bentuk motivasi yang konkret. Kami juga akan menjelaskan pahala orang berpuasa, surga, dan menjadi manusia yang disayang Allah. Tetapi hal tersebut mungkin perlu waktu lama tertanam di benak Azka yang baru akan berusia tujuh tahun di bulan Oktober ini.

Semoga kami dapat memotivasi Azka agar ia ikut bergembira menyambut Ramadhan dan ikut berpuasa.

Allahu A'lam Bishshowab.

#nulisrandom2015 #day3


Wednesday, 3 June 2015

Empati dari Ban Sepeda

This is the story :)

Siang itu, saat Bunda menyusui Alisha sambil 'ngelonin' agar ia tidur, Azka yang pulang dari shalat dzuhur di masjid masuk ke kamar dengan mata basah dengan air mata dan suara tersedu-sedu.Langsung Bunda kaget dan bangun menghampiri dan memeluk Azka. Bunda memberondong Azka dengan beragam pertanyaan, yang idealnya sih harusnya tidak begitu. Namun, Azka sampai nangis, Bunda merasa ada masalah yang cukup serius.

"Azka kenapa?"
"Berantem?"  Azka menggeleng.
"Kepalanya kena timpukan botol minuman?" Azka menggeleng.
"Azka dimarahin orang masjid lagi karena lari-lari?" Azka menggeleng.
"Azka jatuh?" Azka menggeleng.

Pfiuuh... agak lega juga sih, Alhamdulillah, hal-hal yang 'biasanya' membuat Azka menangis tidak terjadi.

"Ya udah, sini sini.. Bunda peluk. Azka tenang dulu ya."

Azka pun berpelukan ke Bunda, dengan suara yang masih tersedu-sedu.

"Pokoknya aku ga mau naik sepeda lagi!" Akhirnya Azka membuka mulut menceritakan penyebab ia menangis.

"Lho, emang kenapa? Azka kan suka main sepeda?"

"Sebel, ban nya kempes melulu."

Aha! ternyata ini toh penyebabnya.  Ban sepeda yang bolak balik kempes memang kerapkali mengesalkan.

kami menyadari hal ini, memang sepeda buatan negeri lihai menghasilkan barang-barang tiruan itu kerap menghadihkan masalah untuk Azka. Entah rantainya lepas, entah rem nya keras, kali ini ban sepedanya, yang selain sudah kempes juga sudah botak.

"Oh gitu, ya udah, in sya Allah kalo kita libur kita ganti ban aja ya. Sementara ini kita pompa dulu ya."

Dan Alhamdulillah marah pun mereda.

Hm... sekali lagi, empati kami sebagai orang tua diasah. Mungkin untuk kami yang orang dewasa, ban sepeda kempes, solusinya mudah. Pompa, atau sekalian ganti ban. Tapi untuk Azka, yang mungkin emosinya masih labil, dan hanya melihat suatu masalah dari satu sudut pandang, ban sepeda kempes nampak seperti 'kiamat sughra'. He..he.. maaf jikalau pemilihan frasenya agak lebay. Tap i jikalau kita mengikuti alur berfikirnya Azka, maka ban sepeda kempes artinya 'genjotan' sepedanya akan eras, lalu dia tidak bisa ngebut, dan tertinggal di belakang dari teman-temannya. Dan untuk anak yang sedang belajar bersosialisasi yang baik dan benar, menjadi berbeda di antara kawan-kawannya adalah hal yang tidak menyenangkan. Dan dalam kondisi ini, apalagi yang dibutuhkan anak selain support untuk membesarkan hati dan solusi dari orang tua? Tapi tetap saja sih, di akhir pembicaraan, Bunda menjelaskan ke Azka lagi, bahwa jika ada sesuatu dengan sepedanya, Azka tidak perlu nangis begitu. Azka cukup  bilang saja baik-baik dengan Bunda atau Abi, in sya Allah kita selesaikan masalahnya.

Ok, baiklah Azka, In sya Allah persoalan ban sepeda ini akan kita tuntaskan sebaik mungkin, supaya Azka bisa asyik lagi bermain sepeda.

#NulisRandom2015 #Day3

Wednesday, 29 April 2015

Picture Azka & Alisha


This is the story :)

Here they are ...

Azka n Alisha.
Abis mandi sore, disuruh selfie sama si Mba.

Azka gayanya selalu jelek .. manyun, or lidah melet. Sementara Alisha. Alhamdulillah bisa gaya keren.


Monday, 19 January 2015

Back To Write

This is the story :)

Lama tidak menulis.. kangen juga.

Update dulu kali yah...

First of all, si mas Azka dunk.

Alhamdulillah Azka sudah khitan tanggal 19 Desember 2014 lalu.
Hi..hi.. Bunda tadinya ngeri membayangkan bagaimana kalau Azka dikhitan, karena ngeri ngurusin penis yang setelah dikhitan. Tapi Alhamdulillah bisa teratasi.

Nah, awal mulanya gini... Sudah beberapa bulan sebelumnya Azka selalu bilang bahwa Azka mau dikhitan. Alhamdulillah Azka belum punya 'mindset' yang mengerikan mengenai prosesi khitan itu. Lalu pas libur sekolah, ada tetangga sebelah yang namanya Opang 'ngomporin' Azka untuk khitan, alias mengajak Azka untuk khitan. Azka pun segera bilang ke Bunda dan Abi kalau dia mau khitan. Bunda fikir Azka belum serius, jadi masih Bunda jawab, iya, in sya Allah. Eh.. ternyata si Abi take this as a serious thing. Jadinya, Abi langsung action keesokan harinya mendaftar ke Rumah Sunatan di Jatiasih. Dan... Alhamdulillah, tanggal 19 Desember punterlaksanalah khitanan Azka. Jangan ditanya tentang nangisnya. wah.... meronta meraung hebat saat disuntik. Tapi setelah nya sih Alhamdulillah Azka ga menangis lagi. Azka dikhitan menggunakan metode smart clamp, dibantu oleh dr. Tyo. Oh ya... setelah khitan, tentu saja ada reward dong, yaitu ... satu unit mainan otopet / scooter. ha..ha.. Dan tidak sampai satu pekan, Alhamdulillah Azka sudahbisa main sepeda. Saat Bunda menulis ini, Alhamdulillah sudah pulih dan Azka sudahbisa beraktivitas seperti sediakala.

Update yang lain mengenai Azka, in sya Allah tahun ajaran 215 ini Azka akan masuk sekolah. Atas pertimbangan guru-guru di TK nya, dan mengamati karakter Azka, serta dialog dengan Azka dengan menjelaskan berbagai kondisi sekolah, in sya Allah Azka akan bersekolah di Sekolah Alam Bambu Item (SABIT). Kami bersepakat menyekolahkan Azka di SABIT karena karakter Azka yang lebih senang belajar dengan cara meng-eksplore sekitarnya dibandingkan harus learn behind the desk. Azka itu, kalo udah ketemu bacaan a,b,c, dia selalu berdalih pusing, cape, dan lain-lain. Tapi jika main pasir, air, lego, berhitung, Subhanallah... kaya diisi batere energ*z*r. ha..ha..

Waktu pendaftaran sekolah, Bunda berkenalan dengan Bu Fida, yang anak pertamanya juga di sekolah alam. eh.. ternyata Bu Fida ini bekerja di perusahaan yang sama dengan Abi, tapi Beliau di bagian finance, sedangkan Abi di bagian design drafter. Bu Fida menjelaskan, bahwa saat kita memutuskan anak kita masuk ke sekolah alam, jangan sekali-kali membandingkan kemampuan anak kita yang bersekolah di SD favorit swasta lain, yang perkembangan ilmu IPA, bahasa, IPS, dan lain-lain nya lebih maju. Karena sekolah alam titik tekannya pada karakter. bu Fida menceritakan, anak pertamanya dibandingkan sepupu-sepupu nya untuk bidang keilmuan, tidak secanggih para sepupunya, tapi untuk karakter, putra Bu Fida ini sudah berani membawa dagangan ke sekolah, berani berjualan. Wow.. Subhanallah... sudah ada bibit 'kerja keras' yang melekat di diri anak Bu Fida.

Hal lain yang menjadikan Bunda dan Abi memutuskan memasukkan Azka ke sekolah alam adalah agar Azka tidak merasa sekolah adalah bangunan masif, dengan kegiatan kertas, pulpen, dan duduk di meja saja. Bunda berharap mindset Azka mengenai sekolah adalah sesuatu yang ia senangi yang bisa ia lakukan di alam bebas. Jika bosan, Azka bisa jalan-jalan di lapangan sekolah yang luas. Mengapa harus senang sekolah, karena jalur pendidikan yang akan ditempuh in sya Allah panjang, yaitu SD, SMP, SMU, S1, S2, bahkan untuk umat muslim, menuntut ilmu itu tidak sebatas ijazah atau titel, tapi dari buaian hingga akhir hayat.

ok, itu tentang Azka... sekarang kita cerita tentang anak gadis kami, si cantik Alisha Zahwa Triherdi.

Alhamdulillah Alisha sudah lancar jalan di usia 14 tahun, masih nenen, mau mencoba makanan apa saja, tetapi sudah tiak mau disuapi makanan menggunakan sendok. Jadi metode makannya Alisha ini, makan keringan, yaitu nasi dan lauk. Sayurnya, digerogotin tersendiri, seperti mentimun, tomat. Hi..hi.. baru dua buah jenis sayur ini yang dia suka. Sudah dicoba wortel rebus, toge, kacang panjang rebus, tetapi Alisha tidak suka.

Alisha ini senaaangg... sekali dengan benda apapun yang sedang dimainkan Azka. Jika Azka mewarnai, maka Alisha akan mendekat Azka untuk pinjam crayonnya. Jika Azka sedang menyusun lego, maka Alisha akan merebut mainan legonya. Daann... Azka adalah orang yang paling tidak senang diganggu (istilahnya Azka 'direcok') jika dia sedang melakukan sesuatu. Kebayang dong, gimana hebohnya duo A ini jika sedang bermain bersama.

Ini yang masih menjadi PR Bunda, karena tidak tahan dengan teriakan Alisha, kadang Bunda minta jalan pintas supaya Azka mengalah. Padahal itu tidak benar juga sih. he..he.. Tapi kalau emosi sedang stabil, in sya Allah bisa juga sih Bunda menengahi. he..he.. Dengan cara memberitahu Alisha bahwa Azka sedang bermain, dan memberikan alternatif mainan lain ke Alisha. Hm.. mudah-mudahan tindakan ini bijak untuk kedua pihak ya.

More about Alisha, untuk kemampuan bicara, masih atatata atau papapap, ah ih oh untuk menunjuk sesuatu. Tapi yang Bunda bahagia, Alhamdulillah Alisha sudah paham  atau mengerti percakapan kita, misalnya sudah bisa mengerti jika diminta duduk, tau arah ke kamar mandi untuk mandi ataupun ceb*k, dan tau untuk sayang (mencium) Maz Azka, Abi, dan Bunda. he..he..  Oh ya, Alisha ini adalah sasaran empuk kalau Mas Azka sedang gemas ingin mencubit atau mencium. Kalau kata Mas Azka, alasannya si dede lucu sih, bulet, tembem. Ha..ha..

Alisha juga rajin shalat, jika kita mengajak shalat, Alisha akan mengambil mukena Bunda untuk Bunda pakai, lalu mengambil sajadah, setelah itu dia tiarap deyh di atas sajadah. Ceritanya sujud., Ha..ha..
Setelah Bunda atau Abi selesai shalat, ALisha akan duduk di pangkuan kami, lalu kami berdoa, dan terakhirnya Alisha akan amin dengan mengusap tangan ke wajah.

Untuk urusan shalat, Mas Azka masih belum fokus. Jika shalat bareng Abi Mas Azka masih suka cubit-cubit Alisha di tengah-tengah shalat, atau bahkan merebahkan badannya ke kasur. walah....

ok, itu dulu update nya,,, mudah-mudahan Bunda akan lebih rajin bercerita tentang si duo A ini. Amiin. 







Thursday, 21 August 2014

Jurnalis

This is the story :)

Di usia Azka yang mau 6 tahun tanggal 30 Oktober ini, mungkin memang masanya dia mempertajam semua informasi yang diperoleh.

Jadi, jika Bunda / Abi mengomentari suatu berita di TV, maka Azka akan bertanya 'apaan Bun?' lalu dilanjutkan 'Emang kenapa?' dan ada 'emang kenapa' yang terus menerus dilontarkan. Jika dia tidak mengerti, dia akan bertanya, 'Maksudnya apa, aku belum ngerti.'.

Nah... Kalau Azka bertanya 'Apaan?' 'Emang kenapa?', Bunda akan menjawab dengan bahasa formal seperti yang ada di berita.

Tapi kalau sudah bertanya 'Maksudnya apa, aku ga ngerti?' maka Bunda akan menjelaskan dengan bahasa yang lebih sederhana dan mudah dipahami.

Kalau kata Mba Upi (khadimat di rumah kami), Azka cocoknya jadi jurnalis aja, nanya terus, Mba Upi nya suka pusing kalau ditanya macem-macem sama Azka. Kalau Mba Upi sudah pusing, pasti akan bilang 'ntar tanya Bunda.'

Aih.. Subhanallah... keingintahuan Azka besar, Bunda senang, karena berarti Azka memiliki semangat untuk tau berbagai hal baru. Semoga curiousitynya terus terpelihara ya Nak. Amiin.



Saat Azka Jealous

This is the story :)

Tadi malam, Azka jelas menunjukkan kecemburuannya ke Bunda.
Hiks.. maaf ya Azka...

Jadi, setelah Azka makan malam, kami bertiga (Bunda, Azka, dede Alisha) ngeriung di kamar. Abi biasanya masih makan sambil nonton berita di ruang tamu.

Nah, malam itu, dede mungkin belum mengantuk, jadinya sudah nenen, tetap bangun dan mau main-main. Seperti biasa, Bunda belum mandi, belum shalat Isya, Bunda pengennya dede Alisha bobo dulu, lalu Bunda 'merapikan' diri Bunda. Biasanya Alisha akan segera tidur jika Bunda memijat-mijat punggungnya.

Saat Bunda memijat-mijat punggung Alisha, Azka, dengan nada rada memprotes, bilang 'Aku... aku .. pijet, gantian.'. Dasar Bunda ga peka, Bunda membalas, 'Iya, nanti, setelah dede bobo.'. Tapi Azka tetap minta dipijat, Bunda yang mau mendekati punggung dede didorong ke belakang, ga boleh mendekat Alisha. Berkali-kali... Dasar Bunda ga peka, yang ada Bunda tetap memijit dede Alisha,

Sampai Bunda memijat kaki Alisha. Nah, kesalahan puncaknya ini, Bunda bilang.. 'Dede kan lebih pegal, karena lagi latihan jalan, berdiri. Azka kan udah bisa.' Eh, ga dinyana, ternyata Azka mulai terisak sambil intonasinya marah... 'Aku yang lebiih pegel, aku kan lompat-lmpat, jalan-jalan, Bunda sih.. dede terus dipijet.'
Waahh... Azka complain. Udah mulai serius nih kayanya level jealousnya.

ok, Bunda stop pijit dede Alisha, beralih ke Azka. Alhamdulillah ABi udah selesai makan, jadi bisa handle Alisha yang masih senang berguling-guling di kasur.

Sambil dipijit, Azka masih marah-marah. 'Pijit pake tangan dua! kakinya! Aku maunya dipijat terus berhari-hari!.'

he..he.. Azka itu kalau sudah marah kadang lucu. Setelah puas dipijit, Azka pun minta dibacakan cerita 'Bagaimana Gunung Meletus' dari seri confidence in science yang kami miliki.

Tapi lesson yang bisa Bunda ambil  adalah... Walaupun usia terpaut jauh, ada saat-saat dimana si kakak masih jealous dan Bunda juga harus memprioritaskan Kakak. Walaupun di keseharian nampak si kakak sayang dan cukup bisa momong adiknya (seperti memberikan mainan, 'menasehati' si ade supaya makannya ga rewel), tapi tetap, posisi kakak, nampaknya masih ingin juga diberikan perhatian yang lebih / prioritas.

ok deyh Azka, insya Allah Bunda akan lebih bijak lagi ya, ga smelulu memperhatikan adik dan menomorduakan Azka.  Maaf ya Azka...

Tuesday, 19 August 2014

Rumah

This is the story :)

Mengingat Azka yang akan menginjak 6 tahun pas di tanggal 30 Oktober, dan anak kami berbeda jenis kelamin, tampaknya sangat urgent untuk kami memiliki rumah baru dengan jumlah kamar yang lebih banyak.

Bukan untuk show off, bermewah-mewah, in sya Allah untuk kemashlahatan. Dalam Islam diajarkan untuk memisahkan tempat tidur anak dan orang tua. Dan, memisahkan juga tempat tidur anak laki-laki dan perempuan.

Suatu ajaran preventif untuk menghindari (Naudzubillahi Min Dzaalik) kejadian seperti incest dlsb.

Hm... di mana ya kira-kira cari rumah dengan 5 kamar tidur, harga maksimal 500 jt?

Mudah-mudahan Allah melimpahkan rizki untuk keluarga kami ini. Amiin. 

Powered By Blogger