Showing posts with label Let's Learn. Show all posts
Showing posts with label Let's Learn. Show all posts

Friday, 25 May 2012

Anak-Anak Karbitan ~ Early ripe, early rot!

This is the story :)

Artikel ini Bunda copy-paste dari status fb seorang teman. Nama penulisnya Bunda cantumkan di awal artikel ini. Artikelnya cukup panjang, mungkin membacanya akan lebih nyaman dalam bentuk print out.

Anak-Anak Karbitan ~ Early ripe, early rot!

Oleh Dewi Utama Faizah,
bekerja di Direktorat pendidikan TK dan SD Ditjen Dikdasmen, Depdiknas,
Program Director untuk Institut Pengembangan Pendidikan Karakter divisi dari Indonesian Heritage Foundation.


Anak-anak yang Digegas Menjadi Cepat Mekar, Cepat Matang, Cepat Layu…

Pendidikan bagi anak usia dini sekarang tengah marak-maraknya. Dimana mana orang tua merasakan pentingnya mendidik anak melalui lembaga persekolahan yang ada. Mereka pun berlomba untuk memberikan anak-anak mereka pelayanan pendidikan yang baik. Taman kanak-kanak pun berdiri dengan berbagai rupa, di kota hingga ke desa. Kursus-kursus kilat untuk anak-anak pun juga bertaburan di berbagai tempat. Tawaran berbagai macam bentuk pendidikan ini amat beragam. Mulai dari yang puluhan ribu hingga jutaan rupiah per bulannya. Dari kursus yang dapat membuat otak anak cerdas dan pintar berhitung, cakap berbagai bahasa, hingga fisik kuat dan sehat melalui kegiatan menari, main musik dan berenang. Dunia pendidikan saat ini betul-betul penuh dengan denyut kegairahan. Penuh tawaran yang menggiurkan yang terkadang menguras isi kantung orangtua …

Captive market! Kondisi diatas terlihat biasa saja bagi orang awam. Namun apabila kita amati lebih cermat, dan kita baca berbagai informasi di internet dan literatur yang ada tentang bagaimana pendidikan yang patut bagi anak usia dini, maka kita akan terkejut! Saat ini hampir sebagian besar penyelenggaraan pendidikan bagi anak-anak usia dini melakukan kesalahan. Di samping ketidak-patutan yang dilakukan oleh orang tua akibat ketidak-tahuannya!


Anak-Anak Yang Digegas…

Ada beberapa indikator untuk melihat berbagai ketidak-patutan terhadap anak. Diantaranya yang paling menonjol adalah orientasi pada kemampuan intelektual secara dini. Akibatnya bermunculanlah anak-anak ajaib dengan kepintaran intelektual luar biasa. Mereka dicoba untuk menjalani akselerasi dalam pendidikannya dengan memperoleh pengayaan kecakapan-kecakapan akademik di dalam dan di luar sekolah.

Kasus yang pernah dimuat tentang kisah seorang anak pintar karbitan ini terjadi pada tahun 1930, seperti yang dimuat majalah New Yorker. Terjadi pada seorang anak yang bernama William James Sidis, putra seorang psikiater. Kecerdasan otaknya membuat anak itu segera masuk Harvard College walaupun usianya masih 11 tahun. Kecerdasannya dibidang matematika begitu mengesankan banyak orang. Prestasinya sebagai anak jenius menghiasi berbagai media masa. Namun apa yang terjadi kemudian? James Thurber seorang wartawan terkemuka pada suatu hari menemukan seorang pemulung mobil tua, yang tak lain adalah William James Sidis. Si anak ajaib yang begitu dibanggakan dan membuat orang banyak berdecak kagum pada beberapa waktu silam.

Kisah lain tentang kehebatan kognitif yang diberdayakan juga terjadi pada seorang anak perempuan bernama Edith. Terjadi pada tahun 1952, dimana seorang Ibu yang bemama Aaron Stern telah berhasil melakukan eksperimen menyiapkan lingkungan yang sangat menstimulasi perkembangan kognitif anaknya, sejak si anak masih berupa janin. Baru saja bayi itu lahir ibunya telah memperdengarkan suara musik klasik di telinga sang bayi. Kemudian diajak berbicara dengan mcnggunakan bahasa orang dewasa. Setiap saat sang bayi dikenalkan kartu-kartu bergambar dan kosa kata baru. Hasilnya sungguh mencengangkan! Di usia 1 tahun Edith telah dapat berbicara dengan kalimat sempurna. Di usia 5 tahun Edith telah menyelesaikan membaca Ensiklopedi Britannica. Usia 9 tahun ia membaca enam buah buku dan koran New York Times setiap harinya. Usia 12 tahun dia masuk universitas. Ketika usianya menginjak 15 tahun ia menjadi guru matematika di Michigan State University. Aaron Stem berhasil menjadikan Edith anak jenius karena terkait dengan kapasitas otak yang sangat tak berhingga. Namun khabar Edith selanjutnya juga tidak terdengar lagi ketika ia dewasa. Banyak kesuksesan yang diraih anak saat ia menjadi anak, tidak menjadi sesuatu yang bemakna dalam kehidupan anak ketika ia menjadi manusia dewasa.

Berbeda dengan banyak kasus legendaris orang-orang terkenal yang berhasil mengguncang dunia dengan penemuannya. Di saat mereka kecil mereka hanyalah anak-anak biasa yang terkadang juga dilabel sebagai murid yang dungu. Seperti halnya Einstein yang mengalami kesulitan belajar hingga kelas 3 SD. Dia dicap sebagai anak bebal yang suka melamun.

Selama berpuluh-puluh tahun orang begitu yakin bahwa keberhasilan anak di masa depan sangat ditentukan oleh faktor kognitif. Otak memang memiliki kemampuan luar biasa yang tiada berhingga. Oleh karena itu banyak orangtua dan para pendidik tergoda untuk melakukan “Early Childhood Training“. Era pemberdayaan otak mencapai masa keemasannya. Setiap orangtua dan pendidik berlomba-lomba menjadikan anak-anak mereka menjadi anak-anak yang super (Superkids). Kurikulum pun dikemas dengan muatan 90 % bermuatan kognitif yang memfungsikan belahan otak kiri. Sementara fungsi belahan otak kanan hanya mendapat porsi 10% saja. Ketidak-seimbangan dalam memfungsikan ke dua belahan otak dalam proses pendidikan di sekolah sangat mencolok. Hal ini terjadi sekarang dimana-mana, di Indonesia.


“Early Ripe, Early Rot…!”

Gejala ketidak-patutan dalam mendidik ini mulai terlihat pada tahun 1990 di Amerika. Saat orangtua dan para profesional merasakan pentingnya pendidikan bagi anak-anak semenjak usia dini. Orangtua merasa apabila mereka tidak segera mengajarkan anak-anak mereka berhitung, membaca dan menulis sejak dini maka mereka akan kehilangan “peluang emas” bagi anak-anak mereka selanjutnya. Mereka memasukkan anak-anak mereka sesegera mungkin ke Taman Kanak-kanak (Pra Sekolah). Taman Kanak-kanak pun dengan senang hati menerima anak-anak yang masih berusia di bawah usia 4 tahun. Kepada anak-anak ini gurunya membelajarkan membaca dan berhitung secara formal sebagai pemula.

Terjadinya kemajuan radikal dalam pendidikan usia dini di Amerika sudah dirasakan saat Rusia meluncurkan Sputnik pada tahun 1957. Mulailah “Era Headstart” merancah dunia pendidikan. Para akademisi begitu optimis untuk membelajarkan wins dan matematika kepada anak sebanyak dan sebisa mereka (tiada berhingga). Sementara mereka tidak tahu banyak tentang anak, apa yang mereka butuhkan dan inginkan sebagai anak.

Puncak keoptimisan era Headstart diakhiri dengan pernyataan Jerome Bruner, seorang psikolog dari Harvard University yang menulis sebuah buku terkenal “The Process of Education” pada tahun 1990, la menyatakan bahwa kompetensi anak untuk belajar sangat tidak berhingga. Inilah buku suci pendidikan yang mereformasi kurikulum pendidikan di Amerika . “We begin with the hypothesis that any subject can be taught effectively in some intellectually honest way to any child at any stage of development“. Inilah kalimat yang merupakan hipotesis Bruner yang disalah-artikan oleh banyak pendidik, yang akhirnya menjadi bencana! Pendidikan dilaksanakan dengan cara memaksa otak kiri anak sehingga membuat mereka cepat matang dan cepat busuk… early ripe, early rot!

Anak-anak menjadi tertekan. Mulai dari tingkat pra sekolah hingga usia SD. Di rumah para orangtua kemudian juga melakukan hal yang sama, yaitu mengajarkan sedini mungkin anak-anak mereka membaca ketika Glenn Doman menuliskan kiat-kiat praktis membelajarkan bayi membaca.

Bencana berikutnya datang saat Arnold Gesell memaparkan konsep “kesiapan-readiness” dalam ilmu psikologi perkembangan temuannya yang mendapat banyak decakan kagum. Ia berpendapat tentang “biological limitations on learning‘. Untuk itu ia menekankan perlunya dilakukan intervensi dini dan rangsangan intelektual dini kepada anak agar mereka segera siap belajar apapun.

Tekanan yang bertubi-tubi dalam memperoleh kecakapan akademik di sekolah membuat anak-anak menjadi cepat mekar. Anak-anak menjadi “miniatur orang dewasa “. Lihatlah sekarang, anak-anak itu juga bertingkah polah sebagaimana layaknya orang dewasa. Mereka berpakaian seperti orang dewasa, berlaku pun juga seperti orang dewasa. Di sisi lain media pun merangsang anak untuk cepat mekar terkait dengan musik, buku, film, televisi, dan internet. Lihatlah maraknya program teve yang belum pantas ditonton anak anak yang ditayangkan di pagi atau pun sore hari. Media begitu merangsang keingin-tahuan anak tentang dunia seputar orang dewasa, sebagai seksual promosi yang menyesatkan. Pendek kata media telah memekarkan bahasa, berpikir dan perilaku anak tumbuh kembang secara cepat.

Tapi apakah kita tahu bagaimana tentang emosi dan perasaan anak? Apakah faktor emosi dan perasaan juga dapat digegas untuk dimekarkan seperti halnya kecerdasan? Perasaan dan emosi ternyata memiliki waktu dan ritmenya sendiri yang tidak dapat digegas atau dikarbit. Bisa saja anak terlihat berpenampilan sebagai layaknya orang dewasa, tetapi perasaan mereka tidak seperti orang dewasa. Anak-anak memang terlihat tumbuh cepat di berbagai hal tetapi tidak di semua hal. Tumbuh mekarnya emosi sangat berbeda dengan tumbuh mekarnya kecerdasan (intelektual) anak. Oleh karena perkembangan emosi lebih rumit dan sukar, terkait dengan berbagai keadaan, Cobalah perhatikan, khususnva saat perilaku anak menampilkan gaya “kedewasaan “, sementara perasaannya menangis berteriak sebagai “anak”.

Seperti sebuah lagu popular yang pernah dinyanyikan suara emas seorang anak laki-laki “Heintje” di era tahun 70-an… I’m nobody’s Child;

I’m nobody’s child; I’m nobody’s child;
I’m nobodys child; Just like a flower; I’m growing wild;
No mummy’s kisses and no daddy’s smile;
Nobody’s touched me; I’m nobody’s child …

Dampak berikutnya terjadi … ketika anak memasuki usia remaja. Akibat negatif lainnya dari anak-anak karbitan terlihat ketika ia memasuki usia remaja. Mereka tidak segan segan mempertontonkan berbagai macam perilaku yang tidak patut. Patricia O’Brien menamakannya sebagai “The Shrinking of Childhood“.

“Lu belum tahu ya… bahwa gue telah melakukan segalanya”, begitu pengakuan seorang remaja pria berusia 12 tahun kepada teman-temannya. “Gue tahu apa itu minuman keras, drug, dan seks ” serunya bangga.

Berbagai kasus yang terjadi pada anak-anak karbitan memperlihatkan bagaimana pengaruh tekanan dini pada anak akan menyebabkan berbagai gangguan kepribadian dan emosi pada anak. Oleh karena ketika semua menjadi cepat mekar…. kebutuhan emosi dan sosial anak jadi tak dipedulikan! Sementara anak sendiri membutuhkan waktu untuk tumbuh, untuk belajar dan untuk berkembang, … sebuah proses dalam kehidupannya !

Saat ini terlihat kecenderungan keluarga muda lapisan menengah ke atas yang berkarier di luar rumah tidak memiliki waktu banyak dengan anak-anak mereka. Atau pun jika si ibu berkarier di dalam rumah, ia lebih mengandalkan tenaga “baby sitter” sebagai pengasuh anak-anaknva. Colette Dowling menamakan ibu-ibu muda kelompok ini sebagai “Cinderella Syndrome” yang senang window shopping, ikut arisan, ke salon memanjakan diri, atau menonton telenovela atau buku romantis. Sebagai bentuk ilusi menghindari kehidupan nyata yang mereka jalani.

Kelompok ini akan sangat bangga jika anak-anak mereka bersekolah di lembaga pendidikan yang mahal, ikut berbagai kegiatan kurikuler, ikut berbagai les, dan mengikuti berbagai arena, seperti lomba penyanyi cilik, lomba model ini dan itu. Para orangtua ini juga sangat bangga jika anak-anak mereka superior di segala bidang, bukan hanya di sekolah. Sementara orangtua yang sibuk juga mewakilkan diri mereka kepada baby-sitter terhadap pengasuhan dan pendidikan anak-anak mereka. Tidak jarang para baby-sitter ini mengikuti pendidikan parenting di Lembaga pendidikan eksekutif sebagai wakil dari orang tua.


Era SUPERKIDS

Kecenderungan orangtua menjadikan anaknya “be special” daripada “be average or normal” semakin marak terlihat. Orangtua sangat ingin anak-anak mereka menjadi “to excel, to be the best“. Sebetulnya tidak ada yang salah. Namun ketika anak-anak mereka digegas untuk mulai mengikuti berbagai kepentingan orangtua untuk menyuruh anak mereka mengikuti beragam kegiatan, seperti kegiatan mental aritmatik, sempoa, renang, basket, balet, tari balet, piano, biola, melukis, dan banyak lagi lainnya… maka lahirlah anak-anak super—”SUPERKIDS’ “. Cost merawat anak Superkids ini sangat mahal.

Era Superkids berorientasi kepada “Competent Child“. Orangtua saling berkompetisi dalam mendidik anak karena mereka percaya “earlier is better“. Semakin dini dan cepat dalam menginvestasikan beragam pengetahuan ke dalam diri anak mereka, maka itu akan semakin baik. Neil Postman seorang sosiolog Amerika pada tahun 80-an meramalkan bahwa jika anak-anak tercabut dari masa kanak-kanaknya, maka lihatlah… ketika anak anak itu menjadi dewasa, maka ia akan menjadi orang dewasa yang ke kanak-kanakan!
Berbagai Gaya Orang Tua

Kondisi ketidakpatutan dalam memperIakukan anak ini telah melahirkan berbagai gaya orangtua (Parenting Style) yang melakukan kesalahan “miseducation” terhadap pengasuhan pendidikan anak-anaknya. Elkind (1989) mengelompokkan berbagai gaya orangtua dalam pengasuhan, antara lain:

Gourmet Parents — (ORTU B0RJU)
Mereka adalah kelompok pasangan muda yang sukses. Memiliki rumah bagus, mobil mewah, liburan ke tempat-tempat yang eksotis di dunia, dengan gaya hidup kebarat baratan. Apabila menjadi orangtua maka mereka akan cenderung merawat anak-anaknya seperti halnya merawat karier dan harta mereka. Penuh dengan ambisi! Berbagai macam buku akan dibaca karena ingin tahu isu-isu mutakhir tentang cara mengasuh anak. Mereka sangat percaya bahwa tugas pengasuhan yang baik seperti halnya membangun karier, maka “Superkids” merupakan bukti dari kehebatan mereka sebagai orangtua.

Orangtua kelompok ini memakaikan anak-anaknva baju-baju mahal bermerek terkenal, memasukkannya ke dalam program-program eksklusif yang prestisius. Keluar masuk restoran mahal. Usia 3 tahun anak-anak mereka sudah diajak tamasya keliling dunia mendampingi orangtuanya. Jika suatu saat kita melihat sebuah sekolah yang halaman parkirnya dipenuhi oleh berbagai merek mobil terkenal, maka itulah sekolah banyak kelompok orangtua “gourmet ” atau kelompok borju menyekolahkan anak-anaknya.

College Degree Parents — (ORTU INTELEK)
Kelompok ini merupakan bentuk lain dari keluarga intelek yang menengah ke atas. Mereka sangat peduli dengan pendidikan anak-anaknya. Sering melibatkan diri dalam barbagai kegiatan di sekolah anaknya. Misalnya membantu membuat majalah dinding, dan kegiatan ekstra kurikuler lainnya. Mereka percaya pendidikan yang baik merupakan pondasi dari kesuksesan hidup. Terkadang mereka juga tergiur menjadikan anak-anak mereka “Superkids“, apabila si anak memperlihatkan kemampuan akademik yang tinggi. Terkadang mereka juga memasukkan anak-anaknya ke sekolah mahal yang prestisius sebagai bukti bahwa mereka mampu dan percaya bahwa pendidikan yang baik tentu juga harus dibayar dengan pantas. Kelebihan kelompok ini adalah sangat peduli dan kritis terhadap kurikulum yang dilaksanakan di sekolah anak anaknya. Dan dalam banyak hal mereka banyak membantu dan peduli dengan kondisi sekolah.

Gold Medal Parents — (ORTU SELEBRITIS)
Kelompok ini adalah kelompok orangtua yang menginginkan anak-anaknya menjadi kompetitor dalam berbagai gelanggang. Mereka sering mengikutkan anaknya ke berbagai kompctisi dan gelanggang. Ada gelanggang ilmu pengetahuan seperti Olimpiade matematika dan sains yang akhir-akhir ini lagi marak di Indonesia. Ada juga gelanggang seni seperti ikut menyanyi, kontes menari, terkadang kontes kecantikan. Berbagai cara akan mereka tempuh agar anak-anaknya dapat meraih kemenangan dan merijadi “seorang Bintang Sejati “. Sejak dini mereka persiapkan anak-anak mereka menjadi “Sang Juara”, mulai dari juara renang, menyanyi dan melukis hingga None Abang Cilik kelika anak-anak mereka masih berusia TK.

Sebagai ilustrasi, dalam sebuah arena lomba ratu cilik di Padang puluhan anak-anak TK baik laki-laki maupun perempuan tengah menunggu di mulainya Lomba Pakaian Adat. Ruangan yang sesak, penuh asap rokok, dan acara yang molor menunggu datangnya tokoh anak dari Jakarta . Anak-anak mulai resah, berkeringat, mata memerah karena keringat melelehi mascara anak kecil mereka. Para orangtua masih bersemangat, membujuk anak-anaknya bersabar, mengharapkan acara segera di mulai dan anaknya akan keluar sebagai pemenang sementara pihak penyelenggara mengusir panas dengan berkipas kertas.

Banyak kasus yang mengenaskan menimpa diri anak akibat perilaku ambisi kelompok Gold Medal Parents ini. Sebagai contoh pada tahun 70-an seorang gadis kecil pesenam usia TK mengalami kelainan tulang akibat ambisi ayahnya yang guru olahraga. Atau kasus “bintang cilik” Yoan Tanamal yang mengalami tekanan hidup dari dunia glamour masa kanak-kanaknya, kemudian menjadikannya pengguna dan pengedar narkoba hingga menjadi penghuni penjara. Atau bintang cilik dunia Heintje yang setelah dewasa hanya menjadi pasien dokter jiwa. Gold Medal Parents menimbulkan banyak bencana pada anak-anak mereka!

Pada tanggal 29 Mei lalu kita saksikan di TV bagaimana bintang cilik “Joshua” yang bintangnya mulai meredup dan mengkhawatirkan orangtuanya. Orangtua Joshua berambisi untuk kembali menjadikan anaknya seorang bintang dengan kembali menggelar konser tunggal. Sebagian dari kita tentu masih ingat bagaimana lucu dan pintarnya. Joshua ketika berumur kurang 3 tahun. Dia muncul di TV sebagai anak ajaib karena dapat menghapal puluhan nama-nama kepala negara. kemudian di usia balitanya dia menjadi penyanyi cilik terkenal. Kita kagum bagaimana seorang bapak yang tamatan SMU dan bekerja di salon dapat membentuk dan menjadikan anaknya seorang “Superkid” — seorang penyanyi sekaligus seorang bintang film….

Do-it Yourself Parents
Merupakan kelompok orangtua yang mengasuh anak-anaknya secara alami dan menyatu dengan semesta. Mereka sering menjadi pelayanan professional di bidang sosial dan kesehatan, sebagai pekerja sosial di sekolah, di tempat ibadah, di Posyandu dan di perpustakaan. Kelompok ini menyekolahkan anak-anaknya di sekolah negeri yang tidak begitu mahal dan sesuai dengan keuangan mereka. Walaupun begitu kelompok ini juga bemimpi untuk menjadikan anak-anaknya “Superkids” — earlier is better“. Dalam kehidupan sehari-hari anak-anak mereka diajak mencintai lingkungannya. Mereka juga mengajarkan merawat dan memelihara hewan atau tumbuhan yang mereka sukai. Kelompok ini merupakan kelompok penyayang binatang, dan mencintai lingkungan hidup yang bersih.

Outward Bound Parents — (ORTU PARANOID)
Untuk orangtua kelompok ini mereka memprioritaskan pendidikan yang dapat memberi kenyamanan dan keselamatan kepada anak-anaknya. Tujuan mereka sederhana, agar anak-anak dapat bertahan di dunia yang penuh dengan permusuhan. Dunia di luar keluarga mereka dianggap penuh dengan marabahaya. Jika mereka menyekolahkan anak-anaknya maka mereka lebih memilih sekolah yang nyaman dan tidak melewati tempat tempat tawuran yang berbahaya. Seperti halnya Do It Yourself Parents, kelompok ini secara tak disengaja juga terkadang terpengaruh dan menerima konsep “Superkids” Mereka mengharapkan anak-anaknya menjadi anak-anak yang hebat agar dapat melindungi diri mereka dari berbagai macam marabahaya. Terkadang mereka melatih kecakapan melindungi diri dari bahaya, seperti memasukkan anak-anaknya “Karate, Yudo, Pencak Silat” sejak dini. Ketidak-patutan pemikiran kelompok ini dalam mendidik anak-anaknya adalah bahwa mereka terlalu berlebihan melihat marabahaya di luar rumah tangga mereka, mudah panik dan ketakutan melihat situasi yang selalu mereka pikir akan membawa dampak buruk kepada anak. Akibatnya anak-anak mereka menjadi “steril” dengan lingkungannya.

Prodigy Parents –(ORTU INSTANT)
Merupakan kelompok orangtua yang sukses dalam karier namun tidak memiliki pendidikan yang cukup. Mereka cukup berada, narnun tidak berpendidikan yang baik. Mereka memandang kesuksesan mereka di dunia bisnis merupakan bakat semata. Oleh karena itu mereka juga memandang sekolah dengan sebelah mata, hanya sebagai kekuatan yang akan menumpulkan kemampuan anak-anaknya.

Tidak kalah mengejutkannya, mereka juga memandang anak-anaknya akan hebat dan sukses seperti mereka tanpa memikirkan pendidikan seperti apa yang cocok diberikan kepada anak-anaknya. Oleh karena itu mereka sangat mudah terpengaruh kiat-kiat atau cara unik dalam mendidik anak tanpa bersekolah. Buku-buku instant dalam mendidik anak sangat mereka sukai. Misalnya buku tentang “Kiat-Kiat Mengajarkan Bayi Membaca” karangan Glenn Doman , atau “Kiat-Kiat Mengajarkan Bayi Matematika” karangan Siegfried, “Berikan Anakmu pemikiran Cemerlang” karangan Therese Engelmann, dan “Kiat-Kiat Mengajarkan Anak Dapat Membaca Dalam Waktu 9 Hari” karangan Sidney Ledson .

Encounter Group Parents — (ORTU NGERUMPI)
Merupakan kelompok orangtua yang memiliki dan menyenangi pergaulan. Mereka terkadang cukup berpendidikan, namun tidak cukup berada atau terkadang tidak memiliki pekerjaan tetap (luntang-lantung). Terkadang mereka juga merupakan kelompok orangtua yang kurang bahagia dalam perkawinannya. Mereka menyukai dan sangat mementingkan nilai-nilai relationship dalam membina hubungan dengan orang lain. Sebagai akibatnya kelompok ini sering melakukan ketidak-patutan dalam mendidik anak-anak dengan berbagai perilaku “gang ngrumpi” yang terkadang mengabaikan anak. Kelompok ini banyak membuang-buang waktu dalam kelompoknya sehingga mengabaikan fungsi mereka sebagai orangtua. Atau pun jika mereka memiliki aktivitas di kelompokya lebih berorientasi kepada kepentingan kelompok mereka. Kelompok ini sangat mudah terpengaruh dan latah untuk memilihkan pendidikan bagi anak-anaknya. Menjadikan anak-anak mereka sebagai “Superkids” juga sangat diharapkan. Namun banyak dari anak anak mereka biasanya kurang menampilkan minat dan prestasi yang diharapkan.

Milk and Cookies Parents —(ORTU IDEAL)
Kelompok ini merupakan kelompok orangtua yang memiliki masa kanak-kanak yang bahagia, yang memiliki kehidupan masa kecil yang sehat dan manis. Mereka cenderung menjadi orangtua yang hangat dan menyayangi anak-anaknya dengan tulus. Mereka juga sangat peduli dan mengiringi tumbuh kembang anak-anak mereka dengan penuh dukungan.

Kelompok ini tidak berpeluang menjadi orangtua yang melakukan “miseducation” dalam merawat dan mengasuh anak-anaknva. Mereka memberikan lingkungan yang nyaman kepada anak-anaknya dengan penuh perhatian, dan tumpahan cinta kasih yang tulus sebagai orang tua.

Mereka memenuhi rumah tangga mereka dengan buku-buku, lukisan dan musik yang disukai oleh anak-anaknya. Mereka berdiskusi di ruang makan, bersahabat dan menciptakan lingkungan yang menstimulasi anak-anak mereka untuk tumbuh mekar segala potensi dirinya. Anak-anak mereka pun meninggalkan masa kanak-kanak dengan penuh kenangan indah yang menyenangkan. Kehangatan hidup berkeluarga menumbuhkan kekuatan rasa yang sehat pada anak untuk percaya diri dan antusias dalam kehidupan belajar. Kelompok ini merupakan kelompok orangtua yang menjalankan tugasnya dengan patut kepada anak-anak mereka. Mereka begitu yakin bahwa anak membutuhkan suatu proses dan waktu untuk dapat menemukan sendiri keistimewaan yang dimilikinya.

Dengan kata lain mereka percaya bahwa anak sendirilah yang akan menemukan sendiri kekuatan didirinya. Bagi mereka setiap anak adalah benar-benar seorang anak yang hebat dengan kekuatan potensi yang juga berbeda dan unik!

“Kamu harus tahu bahwa tiada satu pun yang lebih tinggi, atau lebih kuat, atau lebih baik, atau pun lebih berharga dalam kehidupan nanti daripada kenangan indah terutama kenangan manis di masa kanak-kanak. Kamu mendengar banyak hal tentang pendidikan, namun beberapa hal yang indah, kenangan berharga yang tersimpan sejak kecil adalah mungkin itu pendidikan yang terbaik. Apabila seseorang menyimpan banyak kenangan indah di masa kecilnya, maka kelak seluruh kehidupannya akan terselamatkan. Bahkan apabila hanya ada satu saja kenangan indah yang tersimpan dalam hati kita, maka itulah kenangan yang akan memberikan satu hari untuk keselamatan kita”
(destoyevsky’ s brothers karamoz)
Perspektif Sekolah Yang Mengkarbit Anak

Kecenderungan sekolah untuk melakukan pengkarbitan kepada anak didiknya juga terlihat jelas. Hal ini terjadi ketika sekolah berorientasi kepada produk daripada proses pembelajaran. Sekolah terlihat sebagai sebuah “Industri” dengan tawaran-tawaran menarik yang mengabaikan kebutuhan anak. Ada program akselerasi, ada program kelas unggulan. Pekerjaan rumah yang menumpuk. Tugas-tugas dalam bentuk hanya lembaran kerja. Kemudian guru-guru yang sibuk sebagai “operator kurikulum” dan tidak punya waktu mempersiapkan materi ajar karena rangkap tugas sebagai administrator sekolah. Sebagai guru kelas yang mengawasi dan mengajar terkadang lebih dari 40 anak, guru hanya dapat menjadi “pengabar isi buku pelajaran” ketimbang menjalankan fungsi edukatif dalam menfasilitasi pembelajaran. Di saat-saat tertentu sekolah akan menggunakan “mesin-mesin dalam menskor” capaian prestasi yang diperoleh anak setelah diberikan ujian berupa potongan-potongan mata pelajaran.

Anak didik menjadi dimiskinkan dalam menjalani pendidikan di sekolah. Pikiran mereka diforsir untuk menghapalkan atau melakukan tugas-tugas yang tidak mereka butuhkan sebagai anak. Manfaat apa yang mereka peroleh jika guru menyita anak membuat bagan organisasi sebuah birokrasi? Manfaat apa yang dirasakan anak jika mereka diminta membuat PR yang menuliskan susunan kabinet yang ada di pemerintahan? Manfaat apa yang dimiliki anak jika ia disuruh menghapal kalimat-kalimat yang ada di dalam buku pelajaran? Tumpulnya rasa dalam mencerna apa yang dipikirkan oleh otak dengan apa yang direfleksikan dalam sanubari dan perilaku-perilaku keseharian mereka sebagai anak menjadi semakin senjang. Anak-anak tahu banyak tentang pengetahuan yang dilatihkan melalui berbagai mata pelajaran yang ada dalam kurikulum persekolahan, namun mereka bingung mengimplementasikan dalam kehidupan nyata.

Sepanjang hari mereka bersekolah di sekolah untuk sekolah… dengan tugas-tugas dan PR yang menumpuk…. Namun sekolah tidak mengerti bahwa anak sebenarnya butuh bersekolah untuk menyongsong kehidupannya! Lihatlah, mereka semua belajar dengan cara yang sama. Membangun 90 % kognitif dengan 10 % afektif.

Paulo Freire mengatakan bahwa sekolah telah melakukan “pedagogy of the oppressed” terhadap anak-anak didiknya. Dimana guru mengajar, anak diajar, guru mengerti semuanya dan anak tidak tahu apa-apa, guru berpikir dan anak dipikirkan, guru berbicara dan anak mendengarkan, guru mendisiplin dan anak didisiplin, guru memilih dan mendesakkan pilihannya dan anak hanya mengikuti, guru bertindak dan anak hanya membayangkan bertindak lewat cerita guru, guru memilih isi program dan anak menjalaninya begitu saja, guru adalah subjek dan anak adalah objek dari proses pembelajaran (Freire, 1993). Model pembelajaran banking system ini dikritik habis-habisan sebagai masalah kemanusiaan terbesar. Belum lagi persaingan antar sekolah dan persaingan ranking wilayah….
Mengkompetensi Anak — merupakan ” KETIDAKPATUTAN PENDIDIKAN ?”

Anak adalah anugrah Tuhan… sebagai hadiah kepada semesta alam, tetapi citra anak dibentuk oleh sentuhan tangan-tangan manusia dewasa yang bertanggung-jawab. “(Nature versus Nurture) bagaimana?” Karenanya ada dua pengertian kompetensi. Kompetensi yang datang dari kebutuhan di luar diri anak (direkayasa oleh orang dewasa) atau kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dari dalam diri anak sendiri. Sebagai contoh adalah konsep kompetensi yang dikemukakan oleh John Watson (psikolog) pada tahun 1920 yang mengatakan bahwa bayi dapat ditempa menjadi apapun sesuai kehendak kita sebagai komponen sentral dari konsep kompetensi. Jika bayi-bayi mampu jadi pembelajar, maka mereka juga dapat dibentuk melalui pembelajaran dini.

Kata-kata Watson yang sangat terkenal adalah sebagai berikut : “Give me a dozen healthy infants, well formed and my own special world to bring them up in, and I’ll guarantee you to take any one at random and train him to become any type of specialist I might select — doctor, lawyer, artist, merchant chief and yes, even beggar and thief regardless of his talents, penchants, tendencies, vocations, and race of his ancestors ”

Pemikiran Watson membuat banyak orang tua melahirkan “intervensi dini” setelah mereka melakukan serangkaian tes Inteligensi kepada anak-anaknya. Ada sebuah kasus kontroversi yang terjadi di Institut New Jersey pada tahun 1979. Dimana guru-guru melakukan serangkaian program tes untuk mengukur “Kecakapan Dasar Minimum (Minimum Basic Skill)” dalam mata pelajaran membaca dan matematika. Hasil dari pelaksanaan program ini dilaporkan kolumnis pendidikan Fred Hechinger kepada New York Times sebagai berikut : “The improvement in those areas were not the result of any magic program or any singular teaching strategy, they were… simply proof that accountability is crucial and that, in the past five years, it has paid off in New Jersey”

Juga belajar dari biografi tiga orang tokoh legendaris dunia seperti Eleanor Roosevelt, Albert Einstein dan Thomas Edison, yang diilustrasikan sebagai anak-anak yang bodoh dan mengalami keterlambatan dalam akademik ketika mereka bersekolah di SD kelas rendah, semestinya kita dapat menyimpulkan bahwa pendidikan dini sangat berbahaya jika dibuatkan kompetensi-kompetensi perolehan pengetahuan hanya secara kognitif.

Oleh karena hingga hari ini sekolah belum mampu menjawab dan dapat menampilkan kompetensi emosi sosial anak dalam proses pembelajaran. Pendidikan anak seutuhnya yang terkait dengan berbagai aspek seperti emosi, sosial, kognitif, fisik dan moral belum dapat dikemas dalam pembelajaran di sekolah secara terintegrasi. Sementara pendidikan sejati adalah pendidikan yang mampu melibatkan berbagai aspek yang dimiliki anak sebagai kompetensi yang beragam dan unik untuk dibelajarkan. Bukan anak dibelajarkan untuk di tes dan di skor saja! Pendidikan sejati bukanlah paket-paket atau kemasan pembelajaran yang berkeping-keping, tetapi bagaimana secara spontan anak dapat terus menerus merawat minat dan keingin-tahuan untuk belajar. Anak mengenali tumbuh kembang yang terjadi secara berkelangsungan dalam kehidupannya. Perilaku keingin-tahuan – “curiosity” inilah yang banyak tercabut dalam sistem persekolahan kita. Akademik Bukanlah Keutuhan Dari Sebuah Pendidikan! “Empty Sacks will never stand upright” — George Eliot

Pendidikan anak seutuhnya tentu saja bukan hanya mengasah kognitif melalui kecakapan akademik semata! Sebuah pendidikan yang utuh akan membangun secara bersamaan, pikiran, hati, fisik, dan jiwa yang dimiliki anak didiknya. Membelajarkan secara serempak pikiran, hati. dan fisik anak akan menumbuhkan semangat belajar sepanjang hidup mereka. Di sinilah dibutuhkannya peranan guru sebagai pendidik akademik dan pendidik sanubari “karakter”. Dimana mereka mendidik anak menjadi “good and smart“, terang hati dan pikiran

Sebuah pendidikan yang baik akan melahirkan “how learn to learn” pada anak didik mereka. Guru-guru yang bersemangat memberi keyakinan kepada anak didiknya bahwa mereka akan memperoleh kecakapan berpikir tinggi, dengan berpikir kritis, dan cakap memecahkan masalah hidup yang mereka hadapi sebagai bagian dari proses mental. Pengetahuan yang terbina dengan baik yang melibatkan aspek kognitif dan emosi, akan melahirkan berbagai kreativitas.

Leonardo da Vinci seorang pelukis besar telah menghabiskan waktunya berjam-jam untuk belajar anatomi tubuh manusia. Thomas Edison mengatakan bahwa “Genius is 1 percent inspiration and 99 percent perspiration “. Semangat belajar “encourage” tidak dapat muncul tiba-tiba di diri anak. Perlu proses yang melibatkan hati, kesukaan dan kecintaan belajar. Sementara di sekolah banyak anak patah hati karena gurunya yang tidak mencintai mereka sebagai anak.

Selanjutnya misi sekolah lainnya yang paling fundamental adalah mengalirkan “moral literacy” melalui pendidikan karakter. Kita harus ingat bahwa kecerdasan saja tidak cukup. Kecerdasan plus karakter inilah tujuan sejati sebuah pendidikan (Martin Luther King, Jr ). lnilah keharmonisan dari pendidikan, bagaimana menyeimbangkan fungsi otak kiri dan kanan, antara kecerdasan hati dan pikiran, antara pengetahuan yang berguna dengan perbuatan yang baik….
Penutup

Mengembalikan pendidikan pada hakikatnya untuk menjadikan manusia yang terang hati dan terang pikiran “good and smart” merupakan tugas kita bersama. Melakukan reformasi dalam pendidikan merupakan kerja keras yang mesti dilakukan secara serempak, antara sekolah dan masyarakat, khususnya antara guru dan orangtua. Pendidikan yang ada sekarang ini banyak yang tidak berorientasi kepada kebutuhan anak sehingga tidak dapat memekarkan segala potensi yang dimiliki anak. Atau pun jika ada yang terjadi adalah ketidak-seimbangan yang cenderung memekarkan aspek kognitif dan mengabaikan faktor emosi.

Begitu juga orangtua. Mereka berkecenderungan melakukan training dini kepada anak. Mereka ingin anak-anak mereka menjadi “SUPERKIDS“. Inilah fenomena yang sedang trend akhir-akhir ini. Inilah juga awal dari lahirnya era anak-anak karbitan! Lihatlah nanti ketika anak-anak karbitan itu menjadi dewasa, maka mereka akan menjadi orang dewasa yang ke kanak-kanakan.

Tuesday, 4 October 2011

Kapan Pensiun

This is the story :)

Seorang teman kerja Bunda terserang sedikit 'kepanikan' saat suaminya berucap : Aku kerja sebelas tahun lagi lho. Usia suaminya sekarang sekitar 45 tahun. Jadi sebelas tahun lagi ia akanmemasuki usia pensiun.

Teman kerja Bunda ini terseran 'mini panic' itu karena sekarang ia sedangmengandung anak ke-empatnya. Langsung saja ia berhitung : sebelas tahun dari sekarang, anaknya baru akan masuk SMP. Tapi kepanikan sesaat itu segera terusir karena ia percaya bahwa rejeki ada hitungannya sendiri dari ALLAH.

Mendengar hal ini, Bunda ingat sebuah artikel yang ada di geraidinar.com mengenai usia pensiun. Di artikel tersebut seolah pikiran kita dibuka dari box nya.Ini ceritanyah ...

Sekarang niyh, kita dirasuki sebuah pemikiran bahwa pada usia pensiun, which is 56 tahun, adalah usia 'akhir' untuk produktif. Penghasilan hanya mengandalkan uang pensiun dari kantor lama, post power syndrome, dan penyakit yang mulai menggerogoti. Karena itu, sejak sekarang beberapa nasihat finansial yang pernah Bunda baca menyarankan kita untuk menyiapkan dana pensiun. Tujuannya agar di usia dimana kita tidak lagi berpenghasilan, kita masih punya dana.

Kesan yang ditangkap dari pemikiran ini adalah usia pensiun adalah usia dimana seseorang sudah tidak bisa menghasilakn sesuatu, atau tidak produktif. Tak heran, dengan mindset yang tertanam seperti ini, sering Bunda lihat saudara, tetangga, yang sudah pensiun hanya menghabiskan waktunya untuk hal-hal kesukaan, sepertimain sepeda, aktif pengajian, nnton TV, baca koran, seolah kegiatannya hanya untuk mengisi waktu. Ga salah sih, bermanfaat kok. Tapi rasanya tidak musti begitu. Apalagi ada beberapa orang yang Bunda kenal yang masuk usia pensiun tapi fisiknya masih segar bugar, pikiran dan analisanya masih tajam. Pasti dia masih bisa produktif kan??

Dan di artikel yang Bunda baca di geraidinar itu, diceritakan bahwa Rasulullah, Abu Bakar, menjalankan 'tugas besar' dalam hidupnya di usia-usia pensiun itu.
Ambil contoh, Nabi Muhammad SAW. Beliau menerima wahu usia 40 tahun. Menyebarkan dakwah selama tiga belas tahun sampai akhirnya Islam jaya, berarti usia Beliau menginjak 53 tahun. Kemudian berkembang khilafah ke berbagai penjuru dunia, sampai Beliau meninggal di usia 62 tahun. Setelah itu digantikan oleh Abu Bakar Sidiq, yang usianya pun menginjak sepuh.

Kalau becermin pada sejarah Rasul, semustinya mindset bahwa grafik produktivitas seseorang kalau sudah mencapai usia pensiun akan turun, itu dihilangkan. Dari sekarang harus ditanamkan mindset dan feeling bahwa memasuki usia pensiun kita akan sangat produktifnya dan malah bisalebih bermanfaat untuk orang banyak.

Akung sendiri, ALHAMDULILLAH dengan fisik yang masih ok, yah.. paling masalahnya di pegel linu, masih bisa berkarya di koperasi tempatnya bekerja. Dan Akung pun enjoy sekali menjalani rutinitas pergi pagi pulang sore nya di Bandung, seperti tahun-tahun saat ia masih produktif sebagai karyawan.

Jadi, yuk kita sambut pensiun dengan banyak manfaat yang bisa kita sumbangkan untuk diri, keluarga, dan lingkungan. Amien.

MK Unit C3 - C4


Wednesday, 20 April 2011

Motorik Halus n Keuletan / Kesabaran

This is the story :)

Saat Azka 2 tahunan, ada karakter yang bikin Bunda cukup 'khawatir' jika ini terbawa sampai besar. Yaitu, tidak sabaran alias emosia-an. Misal, kalo ga bisa menuntun sepeda karena rodanya keganjel, dia akan teriak / nangis, ga mau cari masalahnya apa. Contoh lain adalah kalau tidak bisa memasukkan pasak truk sambungan ke lubangnya, dia juga bakalan nangis / teriak. duhh... gen nya siapa ya? :)

Tapi Alhamdulillah, belakangan ini ada aja aktivitas, yang secara unconscious ternyata mengajarkan Azka kesabaran, ketuletan, dan motorik halus. Aktivitas ini ga Bunda ajarkan lho, tapi dia yang minta melakukannya sendiri. Aktivitas itu adalah :
1. Tuang susu bubuk ke dalam botolnya. Kebayang kan, dia harus konsentrasi supaya susunya ga tumpah. Trus waktu mengambil susu dari kaleng, Azka juga musti fokus untuk menyendok berapa penuh susu yang dia kehendaki.
2. Minum dari botol air mineral. Musti pelan-pelan, dan tepat masuk ke mulutnya. Kalo ga pas, baji bisa tumpah, atau Azka nya keselak.

ALHAMDULILLAH... Moga Azka bisa persistent selamanya. Amien.

Wednesday, 9 March 2011

Daun Haus

This is the story :)

Selasa sore, saat Mba upi (asistenbya Uti) sedang menyirm pohon :

Azka (A) : Mba Pi, agi apah?
Mba Upi (U) : Lagi siramin pohon
A : mang, daunnya haus ya?
U : ha..ha.. (ketawa geli) Iya, pohonnya haus, jadi disiram, biar minum.

Kayanya Azka perlu penjelasan lebih banyak nih. Malemnya, Bunda review.

Intinya, Bunda jelaskan, kalau pohon itu juga makhluk hidup, daun pun bisa haus dan butuh minum. Minum juga bisa menjadikan daun bertambah besar atau tumbuh. (ehm... bunda need more reading nreferencies).

Dan tanggapan Azka.... no comment. teruas mimik ASI sambil lihat wajah Bunda.

Dan siang ini, Bunda browsing, mendapatkan jawaban yang bisa memuaskan Azka...

Ini copy artikelnya ya...


Why Do Plants Need to Be Watered?


  1. When you pour water onto a thirsty plant, several beneficial things happen. The soil becomes wet, which dissolves minerals that the plant needs for nutrition so its roots are able to absorb them. After the roots begin taking in the water, the fluid acts as a transportation medium to carry moisture through the entire plant. The process is similar to the way water in your body transports nutrients and waste. The water keeps the proper pressure in plant cells through a process called turgidity. Water also combines with carbon molecules for photosynthesis, which is the process that forms food for plants and also what causes them to release the oxygen you breathe as a waste product.

    Plants store water in their roots and depend on evaporation to keep the leaves cool. If the water supply to a leaf or stem is cut off, that part of the plant turns yellow, orange, red or brown and eventually dies. Water's absence signals the leaves to die off, which is responsible for fall foliage present in many parts of the United States in September through November.

      Watering Houseplants

  2. According to Plant-Care.com, the amount of water houseplants require depends on multiple factors, such as the size of the leaves, the composition of the soil, and heat and humidity levels in the air. Be careful not to overwater houseplants, as it can cause them to die. To check the water level, place your finger into the soil near the plant. If it feels moist, then the plant has too much water; if it feels dry, the plant has too little. Saturate the soil to a depth of at least 8 inches for established plants when watering. This will encourage the plant's roots to reach down where water is more likely to be stored for longer periods of time.

      Water Types

  3. You should be able to use any type of water, but some types make for stronger plants. According to Home Harvest Garden Supply, most houseplants prefer water with an acidic pH level--between 5.0 and 6.5, but some foliage prefers a slightly more alkaline mixture. You can add pH drops or use test strips to determine your water's pH. Because the water is broken down into the soil quickly and mixes with minerals, the pH of the water may change after it is added. You should not water plants with water that has passed through a softening filtration system unless it has been deionized to reduce salt content.

Meja kerja Bunda,
9 maret 2010 jam 3.25

Monday, 27 December 2010

Cerita Hari Ini

This is the story :)

Per pagi ini, sudah 24 jam badan Azka panas. Bunda masih home treatment aja. Kasih minum banyak, minum madu, susu, ga paksa dia untuk makan, dan ... mimik ASI. Sesiangan kemarin Azka lemes banget. Tidur terus, dan rewel. Bunda sih ngerti, namanya juga ada yang dirasa ga enak di badannya.

Kemarin malam, Bunda tanya Azka...
Bunda : Azka, apa yang dirasa, sakit?
Azka   : anas... anas... (= panas sambil bibirnya ngecap-ngecap dan matanya kedip-kedip).
Bunda : Azka mau roti?
Azka   : Nda...
Bunda : Azka mau kue coklat panjang?
Azka   : Nda
Azka   : Num aja... Num Aja.. (= minum aja, minum aja).

ALHAMDULILLAH malam tadi Azka tidur pulas, dan terbangun pun hanya untuk mimik ASI.

Paginya, Azka terbangun, karena lampu sudah menyala. Agak rewel, dan masih lemes. AKhirnya dia minta turun. Di bawah, Azka duduk dipangku Bunda, trus minta ke kamar Uti. Di kamar, Azka mimik AS, dan lama kelamaan tidur. Tadinya Bunda udah ga mau masuk, tapi Uti menyarankan masuk aja. Karena kalau ada Bunda, Azka maunya mimik ASI aja. Uti khawatir kalau mimik ASI aja, dia kurang kenyang dan badannya lemas.

Trus Bunda ngobrol sama Abi, dan Abi pun setuju Bunda ngantor. Saat mandi, kedengeran suara Azka nangis, cariin Bunda. Bunda selesai mandi, Azka langsung nempel ke Bunda. Bunda pangku Azka sambil ngobrol ....

Bunda : Azka, Bunda kerja ya..?

Azka   : Ndak (sambil badannya masih senderan ke badan Bunda)

Sambil ngedengerin Bunda kasih tau Azka, Azka me-repeat ujung kalimat Bunda.

Bunda : Lho, ko ga kerja? Nih Bunda kasih tau ya, Kalo Bund ga kerja, nanti temen2 Bunda pada nyariin Bunda (nyiin Nda)..
Ntar temen-temen Bunda tanyain Bunda (nya Nda...)
Bunda ke mana ya? (Nda nna..?)
Kalo Bunda ga masuk, nanti pekerjaanku ga selesai (ja seii..)
Ntar kalo ga selesai aku ga punya duit buat beli susu (wit cucu...)

SUBHANALLAH,,, ga lama, Azka minta digelarin karpet, trus main sama tugude (truk gede). Bunda sambil sarapan, sambil duduk di karpet. Azka udah ga rewel. Eh, pas Abi turun, udah rapi, Azka pengen ikut Abi... mungkin dikiranya Abi mau naik motor. Tapi Abi mau sarapan dulu. Azka minta keluar, di luar ada Mba Upi. Trus Azka duduk-duduk deh di teras rumah tetangga kami.

ALHAMDULILLAH, saat Bunda mau berangkat, Azka mau dipamitin. Dia mau salam sama Bunda dan Abi, mau bialng dadaaa juga. Dan sampai di kantor, Bunda telepon rumah, kata Uti Azka badannya masih panas dikit. Tapi tadi dah dijemur (biar keringetan), trus udah main sepeda, dan udah minum susu.

Hm... ALHAMDULILLAH, moga berangsur normal ya sayang.

Meja Kerja Bunda
27 Dec 2010
11 AM.

Monday, 20 September 2010

Say No To 'Hopeless' (A Lesson from Azka)

This is the story :)

Bunda (untuk sekian kalinya) belajar dari Azka. Pelajaran kali ini adalah .... Tak Kenal Menyerah, alias Tak berputus Asa.

Ada 2 kejadian. tapi dari dua kejadian ini, Bunda juga bisa ambil benang merah, bahwa kedua kejadian ini dilatarbelakangi oleh 'passion' nya Azka akan suatu hal... That is.. MOBIL !!
iya, MOBIL !!!

OOT : Azka itu terobsesi banget sama makhluk yang namanya mobil. Mau tuh mobil parkir, jalan, atau dinaikin, dia seneng banget sama mobil.

ok...

Peristiwa Pertama
Kami lagi ke rumah Eyang kung dan Eyang Putri di RW 5. trus, mereka siap-siap berangkat silaturahim ke Depok, naik mobilnya pakde Eko. Karena suatu hal, kami memutuskan ga ikut. So... Setelah mereka berpamitan, mobil pun meluncurlah. Dan yang dilakukan Azka adalah ... melihat mobil itu meluncur sampai hilang dari pandangan mata, trus kemudian mengejar sambil berlari ke arah jalannya mobil itu. Bunda panggil-panggil Azka, tapi dia terus berlari. OK lah Bunda ikutin.
Tuh... hebat kan, di kepalanya, Azka berfikir : If I'm chassing the car, I'll get it!. Don't care if the car is leaving. All I have to do is just chassing on it. Pelajarannya : Apapun passion kita, jangan hiraukan halangan / rintangan. Upayakan apapun semaksimal yang kita bisa,

Peristiwa Kedua
Di Sabtu siang, Uti dan Akung mau berangkat kondangan. Akung udah kangen dan 'gatel' aja ajak Azka ikut kondangan, maklum... Akung dan uti baru pulang dari Bandung setelah tiga hari lamanya ga berjumpa Azka. Tadinya kami memutuskan Azka ga usah ikut kondangan, supaya dia istirahat di rumah karena hari-hari sebelumnya Azka bepergian terus.
Tapi ... pas Akung keluar gang, Azka kejar-kejar Akung (ga pake sandal, masih pake kaos oblong rumahan). Trus pas Akung bilang 'Azka ganti sepatu dulu, Azka buka lemari, ambil kaos kakinya, ditunjukakn ke Akung. Duh... karena kami khawatir dia 'gelo' (hm.. gelo tuh bahasa Jawa, mungkin kalo dibahasaIndonesiakan, artinya kecewa) akhirnya kami ubah keputusan. Azka boleh ikut kondangan sama Akung dan Uti. ya udah.. cepet-cepet Bunda bereskan keperluan Azka, dan Abi memandikan Azka.
Keren kan... Azka keukeuh banget dengan kemauannya sampai-sampai kita yakin bahwa 'itu' adalah yang yang diinginkan Azka. Pelajarannya : Apapun keinginan kita, kalau kita yakin untuk meraihnya, meskipung orang lain ga sejalan, yakinlah bahwa pada akhirnya orang lain pun akan mendukung keinginan kita.

ALHAMDULILLAH ... ini niyh bukti bahwa anak itu pembawa rejeki. Rejeki ilmu... Apalagi lifeskill, yang harganya teramat mahal apabila dimapping ke dalam sebuah training.

Terima kasih Azka... yang udah menjadi guru tanpa pamrih untuk Bunda n Abi.

Meja kerja Bunda,
20 September 2010
Jam 2.54

Monday, 6 September 2010

Good Parenting. (Slide disampaikan oleh Bu Elly Risman)














Kue Moskovich

This is the story :)

SUBHANALLAH ... Amazing sekali melihat perkembangan Azka, baik dari sisi kecerdasan, fisik, emosional, dan mungkin spiritualnya.

Di usia menjelang dua tahun ini, Azka semakin meng-eksplore sekelilingnya. Kadang membuat kami ketawa geli, berdecak kagum, ngeri atau was was, bahkan mungkin pernah 'kesel' karena dibilangin teteup ga mempan. Hm... mustinya ga boleh kesel siyh. he..he.. Alla Kulli Hal, kami menghindari omelan, ancaman, bohong, dan pernyataan negatif lain ke Azka. Karena apa,,,? Karena ini :

1. Anak adalah titipan ALLAH, dan kita tidak boleh menyakiti dia apapun bentuknya.
2. Anak usia 0 - 7 tahun, yang baru berkembang adalah batang otak. Di mana sifat bagian otak ini seperti reptil. Kalau ga mamatok / menyerang, maka ia akan ngumpet. Otak besar untuk mengolah kecerdasan baru berkembang di usia 7 tahunan. Jadi... anak usia 0 - 7 tahun emang ga bisa dimarahi. Karena dia ga ngerti bahaya / tidak. salah / benar. Dia hanya meng-eksplore sekelilingnya. (source : kajian muslimah Indosat, oleh Bu Elly Risman, tentang Good Parenting)

Jadi solusinya adalah.... ya membimbing dan membimbing terus anak usia di bawah 7 tahun itu. Tidak mungkin sekali omongan langsung jadi, tapi harus terus menerus, setiap hari, dan tentunya dengan kesabaran, pelan-pelan. Bunda jadi inget tulisannya Neno Warisman di bukunya 'Mentari Odi bersinar karena Maghfi'. Di buku tersebut Beliau menuturkan, mendidik anak ibarat memanggang kue moskovich (sstt... Bunda juga belum tau bentuk kue ini kaya apa. he..he.. Bunda gugling, yangmuncuul ada kue cupcake, brownies gitu. Hm... sementara ini, kita anggap kue moskovich ini kaya brownis ya. ha..ha..). Musti dengan api kecil, sabar, pelan-pelan, dan lama untuk hasil terbaik. Maksud hasil terbaik adalah agar kue itu matang sampai bagian dalamnya. Tidakboleh dengan api besar, karena yang ada hanyalah hangus di luar, tapi tidak matang di dalam.

Mungkin kalau boleh Bunda mencontoh pada pengalaman Bunda (tanpa mau mendeskreditkan ini salah siapa) ... Bunda diajarkan shalat dari SD (karena Bunda dari SD sampai SMU di sekolah Islam). Cuma... kesadaran akan pentingnya shalat buat pribadi Bunda, dan kebutuhan Bunda membaca Al Quran baru Bunda rasakan setelah dewasa. Mungkin saat di bangku kuliah. Well, SMU insyaALLAH shalatnya udah ga bolong-bolong, tapi itu sekedar menggugurkan kewajiban aja).

Kok bisa gitu ya...??

Hm.. kalau Bunda analisa, dari kecil, bunda ga ditanamkan kecintaan untuk shalat. Pokoknya taunya harus shalat, agar agenda catatan shalatnya terlihat 'bagus', alias ga ada yang blank shalat. Trus ngaji... hm... mohon maaf ya, tanpa mengurangi rasa hormat, yang melalui Beliau Bunda jadi bisa baca Al Quran, Bunda ga ditanamkan kecintaan sama Al Quran. Jadi, ngajinya cuma menggugurkan kewajiban karena disuruh sama orang tua Bunda yang kerja, dan supaya di sekolah pelajaran Al Quran-nya dapet nilai bagus. Trus, ga tau kenapa deyh... guru jaman dulu kok senengnya nakut-nakutin siyh... Kalo ga ini nanti begini, kalau ga gitu nanti begitu. Jadi males kan ngedengernya...

Nah, belajar dari itu semua, insyaALLAH Bunda akan memperbaikin pola didik atau pola asuh ke Azka. Semoga dengan begitu, Azka menjadi muslim yang taat sama ALLAH, tangguh, mandiri, loveable, cerdas, percaya diri, dan berempati sama lingkungan.

ALLAHUMMA Amien...

Meja kerja Bunda,
6 september 2010
9.49

Thursday, 2 September 2010

Kenapa Anak Kecil Suka Coret-coret?

This is the story :)

Artikel ini Bunda co-paste dari Detik-Health, tulisan Vera Farah Bararah

Jakarta,* Orangtua seringkali menemukan coretan-coretan pada dinding
rumah yang dilakukan oleh si kecil. Kenapa anak kecil suka sekali
mencoret-coret?

Kelakuan ini seringkali membuat orangtua menjadi kesal dan marah, karena
tembok rumah yang tadinya bersih jadi kotor. Biasanya anak belum bisa
menggambar bentuk yang benar, sehingga coretan yang ada hanya berupa
garis lurus saja.

Meskipun kondisi ini tidak menyenangkan dan membuat rumah terlihat
kotor, sebaiknya orangtua tidak memarahi atau membentak si kecil.

Namun beritahukan pada anak di mana seharusnya ia boleh menggambar atau
mencoret-coret. Sediakan pula sarana seperti buku gambar, kertas kosong
dan crayon ukuran besar sehingga mudah digenggam oleh anak.

Kebiasaan mencoret-coret ini merupakan salah satu cara untuk melatih
perkembangan motorik halusnya, perkembangan ini nantinya akan dibutuhkan
untuk membantu anak menulis dan menggambar.

Kegiatan ini juga menjadi sarana bagi si kecil untuk mengungkapkan atau
mengekspresikan dirinya, meskipun gambar yang dihasilkan terkadang tidak
bisa dimengerti oleh orangtua.

Dikutip dari /Family,go.com/, Rabu (1/9/2010) coretan yang dihasilkan
oleh si kecil berbeda-beda tergantung pada usianya, yaitu:

Coretan acak terjadi pada usia 12-30 bulan (2,5 tahun)
Pada usia ini anak masih belajar untuk memegang pensil warna dan membuat
tanda atau garis di atas kertas. Anak-anak cenderung mengalami
kenikmatan kinestetik, yaitu kesenangan atau kenikmatan untuk bergerak
dan membuat tanda. Coretan yang dihasilkan masih acak dan tidak teratur
serta cenderung menghasilkan garis panjang sepanjang kertas atau tembok.

Coretan terkontrol terjadi pada usia 2,5-3 tahun
Pada usia ini anak mulai menggunakan gerakan pergelangan tangan,
mengontrol coretannya dan membuat gambar yang lebih kecil. Namun coretan
yang dihasilkan belum sepenuhnya bisa dimengerti orang lain, dan juga
anak masih suka menggambar atau mencoret-coret tembok.

Coretan yang dihasilkan mulai berbentuk, terjadi pada usia 3-4,5 tahun
Anak-anak mulai memegang krayon dengan menggunakan jari serta sudah
mampu membuat berbagai garis dan bentuk serta gambarnya sudah mulai bisa
dimengerti. Selain itu anak-anak juga cenderung 'mengisahkan' atau ada
cerita di balik gambar yang dibuatnya.

Preskematik terjadi pada usia 4,5-7 tahun
Anak mulai menggambar simbol-simbol seperti garis yang meliuk-liuk,
lingkaran, spiral, angka-angka dan sesuatu yang mulai menyerupai objek
sebenarnya. Tapi anak-anak masih belajar untuk mengungkapkan sesuatu
pada orang lain melalui gambarnya.

Orangtua sebaiknya tidak melarang kegiatan anaknya ini, karena banyaknya
larangan yang diterima oleh si kecil akan menghambat sisi kreativitas
anak untuk berani mengekspresikan dirinya. Selain itu larangan yang
diberikan atau memarahinya tidak akan memberitahu anak apa yang salah
dan bagaimana yang benar.

Karena itu orangtua harus menyediakan sarana bagi anak untuk menggambar,
serta memberitahu dan memberi pengertian pada anak dimana saja anak
boleh menggambar dan daerah mana saja yang tidak boleh.

Memang tidak mudah dan tidak cukup sekali saja memberitahunya, untuk itu
orangtua harus sabar dan mengulanginya terus, serta jangan lupa untuk
memberi anak pujian jika ia berhasil menggambar di tempat yang benar.


Ha..ha.. jadi inget, waktu Bunda kecil, Bunda dan Tante Arie senengnya coret-coret di tembok kamar. Kayanya enak banget coret-coret tembok. trus sama Uti, temboknya didiemin aja sampai Bunda & Tante Arie udah besar, soalnya kalo bolak-balik dicat tanggung, kotor lagi, cat lagi, kotor, cat lagi.

Sejauh ini, kelihatannya Azka belum menunjukkan interest sama corat-coret. Hm.. ntar deh dicoba, kasih pensil warna dan kertas, dia suka corat-coret ga. Moga-moga Bunda ga kurang dalam memberikan stimulus ke Azka.

Meja kerja Bunda,
8.37 2 September 2010

Wednesday, 1 September 2010

Kalau Bukan Memeras, Lalu Apa Namanya?

This is the story :)

Selama bulan Ramadhan ini, Bunda diantar Abi sampai terminal Kampung Melayu, kemudian Bunda lanjut naik kopaja No. 502.

Beberapa hari terakhir ini Bunda 'diresahkan' dengan anak muda yang 'berorasi' di bus. Isinya kira-kira begini :

Selamat pagi Bapak, Ibu.. Mohon maaf kami mengganggu perjalanan. Kami di sini sekedar meminta rizki dari bapak / Ibu. Uang 500 atau 1000 tidak akan membuat Bapak / Ibu jatuh miskin, dan juga tidak pula membuat kami kaya.
Bukannya kami malas, kami sudah mencari pekerjaan di ibu kota ini, tetapi sia-sia. Dan kami harus menyambung hidup demi sesuap nasi. Tolonglah Bapak / Ibu... kami tidak mungkin gelap mata dengan menodong / merampok demi sesuap nasi.
kami hanya ingin sebagian kecil rizki bapak / Ibu.


Kata-katanya sih secara halus ya... namun, diucapkan dengan nada yang hm.. kalo Menurut Bunda sih kasar. Trus setelah orasi kaya gitu, anak-anak muda itu samperin kursi penumpang satu persatu sambil nyodorin telapak tangan meminta.

Well, Bunda antara kesal, miris, prihatin, campur aduk deyh. Sebel banget kalau mereka bilang udah berusaha cari kerja, tapi sia-sia. MasyaALLAH... Semaksimal apa sih mereka sudah bekerja, masa ALLAH ga kasih rejeki? bunda yakin, mereka pasti ga kerja semaksimal seperti definisi 'maksimal' yang ada di otak Bunda.

Let's see... Maaf, sejelek-jeleknya, apa mereka pernah jadi pemungut sampah / pemulung trus dijual ke lapa? Belom kan..? Apa mereka pernah jualan aqua dan rokok asongan gitu, yang keliling di jalanan dari pagi sampai malam? belum kan.. ?

RASULULLAH SAW udah mencontohkan bagaimana Beliau kerja keras. Beliau menggembalakan kambing dari kecil, membawa kafilah dagang ke negeri Syam, yang jauh dari Arab, dan seterusnya. Sahabat pun mencontohkan demikian. Putra-putri RASULULLAH SAW juga bekerja keras, baik di dalam rumah ataupun di luar rumah dalam upaya menggapai maisya.

Alah Bunda... kalo ga mau kasih ya udah deyh, ga usah pake dalih kerja keras apalah gitu.

Emang Bunda ga mau kasih. Mungkin Bunda pelit, mungkin Bunda perhitungan, atau apalah. Cuma satu hal, Bunda ingin memutus rantai mental peminta-minta di kalangan anak muda ini. Lha wong mereka sehat bugar kok. Tinggal dirapiin aja penampilannya sedikit, jualan apa kek atau jadi apa, insyaALLAH pasti ada rejekinya kok.

Ternyata tugas kita sebagai orang tua 'buanyak' sekali ya. Bukan hanya ngurusin anak sendiri, tapi anak-anak itu adalah anak negeri, yang nantinya, baik langsung atau tidak langsung, pasti akan punya interaksi dengan anak kandung kita.

Ada sih hal-hal yang Bund audah pikirin, misal... kasih kerjaan konkret ke anak-anak ini. tapi apa ya? (ini yang lagi dipikrin metodenya).

Bismillah ... Moga-moga ketemu solusi konkret yang bisa dikerjakan Bunda / Abi dalam masalah ini. Amien ..

Meja kerja Bunda,
1 September 2010
9.02

Thursday, 24 June 2010

Trauma Cedera Kepala

This is the story :)

Artikel ini adalah copy-paste dari milis hypnobirthing, di bawah thread 'Terjun Bebas dari ketinggian 50cm'. Secara, nampaknya kejadian kejedug / terbentur kepala karena akibat lain pada balita adalah hal yang sering terjadi. Hiks... Azka juga pernah.

Ini ya salinannya ...

Trauma kepala umum terjadi pada anak pada umur berapapun. Penyebab trauma kepala ini antara lain jatuh, kecelakaan saat berolahraga, kecelakaan lalu lintas, dan trauma bukan karena kecelakaan.

Pemeriksaan

Lakukan primary survey dan pastikan jalan napas, tulang servikal, pernapasan dan sirkulasi anak dalam keadaan aman.

Segera periksa status mental anak dengan meggunakan skala AVPU. Gunakan penekanan pada supraorbital yang cukup keras sebagai rangsang nyeri.

A Alert (sadar)

V Responds to voice (berespon terhadap suara)

P Responds to pain (berespon terhadap nyeri)

Purposefully

Non-purposefully

Withdrawal/flexor response

Extensor response

U Unresponsive
(tidak berespon)

Nilai ukuran pupil, sama tidaknya dan reaktivitasnya, dan cari tanda-tanda neurologis fokal lainnya.

Lakukan secondary survey untuk melihat secara spesifik pada:

Leher dan tulang servikal – deformitas, nyeri, spasme otot
Kepala – lecet di kulit kepala, laserasi, pembengkakan, nyeri, Battles
Mata – ukuran pupil, ekualitas danreaktivitas, funduskopi
Telinga – darah di belakang gendang telinga, kebocoran LCS
Hidung – deformitas, pembengkakan,perdarahan, kebocoran LCS
Mulut – trauma gigi, trauma jaringan lunak Patah tulang wajah
Fungsi motorik – periksa alat gerak untuk melihat adanya refleks dan kelemahan sesisi
Lakukan pemeriksaan Glasgow Coma Score Pertimbangkan kemungkinan adanya traumanon-kecelakaan selama secondary survey terutama pada bayi dengan trauma kepala


Tatalaksana

Trauma kepala ringan:

Tidak kehilangan kesadaran Satu kali atau tidak ada muntah Stabil dan sadar Dapat mengalami luka lecet atau laserasi di kulit kepala Pemeriksaan lainnya normal

Anak-anak ini dapat dipulangkan dari Gawat Darurat untuk kemudian dirawat oleh orang tuanya. Jika terdapat keraguan apakah telah terjadi hilangnya kesadaran atau tidak, anggap
telah terjadi dan tatalaksana sebagai trauma kepala sedang. Pastikan orang tua mendapatkan instruksi yang jelas mengenai tatalaksana anak mereka di rumah terutama untuk segera kembali ke rumah sakit jika anak:

Menjadi tidak sadar atau sulit dibangunkan menjadi bingung mengalami kejang timbul sakit kepala menetap berulang kali muntah keluar
darah atau cairan dari hidung atau telinga

Trauma kepala sedang:

Kehilangan kesadaran singkat saat kejadian Saat ini sadar atau berespon terhadap suara. Mungkin mengantuk Dua atau lebih episode muntah Sakit kepala persisten Kejang singkat (<2menit) style="font-weight: bold;">Trauma kepala berat:

Kehilangan kesadaran dalam waktu lama Status kesadaran menurun – responsif hanya terhadap nyeri atau tidak responsif Terdapat kebocoran LCS dari hidung atau telinga.

Tanda-tanda neurologis lokal (pupil yang tidak sana, kelemahan sesisi)
Tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial: Herniasi unkus: dilatasi pupil ipsilateral akibat kompresi nervus okulomotor Herniasi sentral: kompresi batang otak menyebabkan bradikardi dan hipertensi Trauma kepala yang berpenetrasi Kejang (selain Kejang singkat
(<2menit) style="font-weight: bold; color: rgb(204, 0, 0);">Tatalaksana awal trauma

kepala berat:

Mencegah kerusakan otak sekunder dengan mempertahankan jalan napas yang paten, ventilasi dan oksigenasi adekuat, dan menghindari hipotensi.

Imobilisasi tulang servikal harus dipertahankan bahkan apabila foto lateral tulang servikal normal.

Pastikan intervensi bedah sarah dan ICU sejak dini.

Dengan konsultasi bersama ahli bedah saraf pertimbangkan untuk menurunkan
tekanan intrakranial:

Naikkan kepala 20-30° (hanya setelah syok dikoreksi) Ventilasi sampai pCO2 35mmHg Pertimbangan pemberian mannitol 0.5-1g/kg IV Pastikan tekanan darah adekuat

Kontrol kejang.

Lakukan CT scan kepala segera.

Berdasarkan National Institute for Health and Clinical Excellence, CT scan
kepala dilakukan jika terdapat satu atau lebih keadaan di bawah ini:

Kehilangan kesadaran lebih dari 5 menit
Tidak dapat mengingat kejadian sebelum atau sesudah trauma dan berlangsung lebih dari 5 menit.
Mengantuk yang tidak lazim Mual tiga kali atau lebih sejak trauma
Kemungkinan kerusakan yang timbul perlahan.
Kejang setelah trauma (jika anak tidak menderita epilepsi)
GCS kurang dari 14 atau kurang dari 15 untuk bayi kurang dari 1 tahun, ketika
pertama kali diperiksa di IGD Tanda-tanda yang menunjukkan tengkorak menekan otak Tanda-tanda fraktur basis cranii (misal, mata panda’) Luka lecet, bengkak, atau robekan di kepala >5cm pada bayi di bawah 1 tahun Mengalami kecelakaan lalu lintas dengan kecepatan tinggi Jatuh dari ketinggian lebih dari 3 meter Terluka oleh benda atau sesuatu dengan kecepatan tinggi

PANDUAN UNTUK ORANG TUA

Anak-anak seringkali mengalami benturan di kepala dan sulit untuk diketahui
apakah hal itu merupakan masalah yang serius atau tidak. Jika anak Anda
terbentur di kepala, sebaiknya Anda menemui dokter. Trauma kepala adalah
benturan apa pun yang mengenai kepala yang menyebabkan benjol, luka lecet,
robekan, atau luka yang lebih parah pada kepala anak. Kebanyakan trauma kepala
bukan merupakan hal yang serius dan hanya menimbulkan benjol atau luka lecet. Namun terkadang trauma kepala dapat mengakibatkan kerusakan pada otak.

Cari bantuan medis segera jika :

Anak Anda mengalami benturan keras di kepala, seperti jatuh dari ketinggian
atau kecelakaan mobil.

Anak Anda kehilangan kesadaran.

Anak Anda tampak tidak sehat dan muntah beberapa kali setelahnya

Gejala dan Tanda

Gejala trauma kepala digunakan untuk menentukan berat tidaknya trauma tersebut.
Trauma kepala dapat digolongkan menjadi tiga jenis, yaitu trauma kepala ringan,
sedang, dan berat.

Trauma kepala berat adalah ketika anak Anda:

Tidak sadar lebih dari 30 detik.
Mengantuk dan tidak berespon terhadap suara Anda.
Memiliki tanda-tanda trauma kepala lain yang signifikan, seperti lebar pupil yang
tidak sama, kelemahan lengan dan kaki.
Ada sesuatu yang tersangkut di kepalanya.
Mengalami kejang kedua selain kejang singkat pertama ketika trauma terjadi.
Anda sebaiknya menghubungi ambulans segera jika anak Anda mengalami trauma kepala berat.

Trauma kepala sedang adalah ketika anak Anda:

Tidak sadar selama kurang dari 30 detik.
Sadar dan berespon terhadap suara Anda.
Muntah 2 kali atau lebih.
Sakit kepala.
Kejang singkat satu kali dapat terjadi langsung setelah trauma.
Bisa mengalami luka lecet, benjol, atau luka robek yang besar di kepala.

Anak Anda sebaiknya diawasi dengan ketat di rumah sakit selama paling sedikit 4 jam
setelah trauma kepala sedang.

Trauma kepala ringan adalah ketika anak Anda:

Tidak kehilangan kesadaran/tidak pingsan.
Sadar atau dapat berinteraksi dengan Anda.
Mungkin muntah, namun hanya sekali.
Bisa terdapat luka lecet atau robek di kepalanya. Selain itu normal.

Tatalaksana

untuk trauma kepala ringan

Sebagian besar anak dengan trauma kepala ringan sembuh sepenuhnya. Sebagian besar benturan ringan hanya menyebabkan luka lecet dan nyeri sebentar.

Berikan es atau handuk dingin pada daerah yang mengalami trauma untuk membantu
mengurangi bengkak.

Jika terdapat luka, tutup dengan perban bersih dan tekan selama 5 menit. Luka
robek di kepala sering berdarah banyak.

Masalah-masalah yang harus diperhatikan 1-2 hari setelahnya:

Sakit kepala. Anak Anda dapat mengalami sakit kepala. Berikan parasetamol tiap 4-6 jam jika diperlukan untuk menghilangkan nyeri.

Muntah. Anak Anda dapat mengalami muntah sekali, namun jika muntah berkelanjutan, bawalah ke dokter.

Mengantuk. Segera setelah trauma kepala Anak Anda mungkin merasa
mengantuk. Anda tidak perlu menjaganya agar tetap bangun bila ia ingin tidur.
Jika anak Anda tidur, bangunkan tiap ½-1 jam untuk memeriksa kondisinya dan
reaksinya pada hal-hal yang dikenalnya. Anda sebaiknya melakukan ini sampai ia
tak lagi mengantuk dan telah terjaga selama beberapa jam. Beberapa pertanyaan yang
dapat Anda ajukan:

Apakah ia mengetahui namanya? Apakah ia mengetahui nama orang lain yang dikenalnya? Apakah ia mengetahui hari apa hari ini? Atau jika anak Anda masih kecil: apakah reaksinya tampak sesuai? Misalnya mengambil sebuah mainan. Apakah ia tampak interaktif dan tidak terlalu rewel?

Jika Anda mengalami kesulitan membangunkan anak Anda, bawa anak ke gawat
darurat terdekat atau hubungi ambulans.

Jika perilaku anak Anda sangat berbeda dengan perilaku normalnya atau bila
nyeri tidak hilang, pergilah ke dokter.

Follow up

Beberapa masalah yang mungkin timbul akibat trauma kepala bisa sulir untuk
dideteksi pada awalnya. Pada beberapa minggu selanjutnya orang tua mungkin melihat adanya:

Rewel Mood yang berganti-ganti Kelelahan Masalah konsentrasi Perubahan perilaku

Sampaikan pada dokter Anda jika Anda khawatir akan tanda-tanda tersebut.

Temui dokter Anda atau kembali ke rumah sakit segera jika anak Anda mengalami/memiliki:

Perilaku yang tidak lazim Sakit kepala terus menerus atau beray yang tidak hilang dengan parasetamol (rewel pada bayi) Muntah berulang kali Keluar darah atau cairan dari telinga
atau hidung. Kejang atau spasme pada wajah, lengan, atau kaki Sulit bangun Sulit untuk tetap terjaga Jika Anda merasa khawatir dengan sebab apapun

Hal-hal yang harus diingat

Jika anak Anda mengalami trauma kepala, sebaiknya temui dokter.

Berikan es atau handuk dingin pada daerah yang terkena trauma untuk membantu
mengurangi bengkak.

Algoritme Evaluasi dan
Triase Anak dan Remaja dengan Trauma Kepala (Berdasarkan American
Academy of Pediatrics dan
American of Family Physician)

Metode Mendidik Anak, Seperti yang Diajarkan Rasulullah SAW

This is the story :)

Tadi siang, ada kajian keputrian di kantor Bunda. Yang membaakan materi adalah Ustadzash Sinta Santi. Ini rangkumannya .

Masa Pendidikan Anak Yang Dijelaskan oleh Rasulullah SAW.
1. Uaia 0 - 7 tahun.
Usia ini adalah usia bermain. Maka sangat tidak tepat apabila anak TK sudah disuruh belajar duduk serius. Boleh belajar, tapi ajarkan lewat permainan.
Golden age ada di usia 0 - 5 tahun. Pada usia ini anak mampu menyerap bahkan sampai 5 bahasa. Dan usia ini adalah usia yang sangat baik juga untuk anak menghafalkan Al Quran. Di usia 7 tahun, anak juga mulai belajar disiplin untuk shalat. Lebih dini, melalui pembiasaan atau ikut orang tua ke masjid, pastinya lebih baik
2. Usia 7 - 14 tahun.
Usia di mana anak mengalami pubertas. Di usia ini, adalah benar-benar pendidikan yang musti ditanamkan. Karena, yang ditanamkan di usia ini akan berefek pada kelanjutan usia anak selanjutnya. Perintah shalat juga sudah mulai didisiplinkan, di usia 10 tahun.
3. Usia 15 - 24 tahun.
Adalah usia di mana orang tua bisa berpartner dengan anak. Diharapkan orang tua bisa 'mengimbangi' karakter anak. Orang tua musti membuka diri terhadap anak, sehingga anak pun mau membuka dirinya (misal : untuk curhat) kepada orang tuanya.
4. Usia 24 tahun ke atas dan seterusnya.
Orang tua dan anakbisa menjadi seperti sahabat, yang selalu membantu di kala suka dan duka.

Hal yang penting dalam mendidik anak. Ada 5 hal (duhh maaf, Bunda cuma inget 4, tadi ga bawa catetan soalnya) :
1. Keteladanan dari orang tua.
Bagaimanapun, anak akan mencontoh orang tua, baik dalam berprilaku, bicara, atau cara berfikir. Oleh karena itu, orang tua semustinya belajar agar bisa menjadi teladan untuk anaknya.
2. Ketaatan
Anak akan taat pada kedua orang tuanya apabila orang tuanya juga menunjukkan ketaatan pada orang tua mereka (eyang nya si anak), Bunda taat pada Ayah, dan yang paling penting, ketaatan orang tua pada ALLAH SWT.
3. Kasih sayang
Jadikan anak merasa disayangi dan dicintai. Cium anak dengan sepenuh kasih sayang seperti yang dicontohkan Rasulullah pada cucunya, Hasan dan Husein. bermain dengan mereka, dan jangan remehkan kebutuhan mereka, walaupun di mata orang tua nampaknya sepele.
Note : He..he.. jadi inget kemaren malem. Bunda ngereview cerita Azka yang hari Senin lalu ikut Akung ek masjid untuk shalat Dzuhur. Saat cerita berlangsung, Azka bolak balik bilang 'Da' , 'Da', 'Da'. Mulanya Bunda ga ngerti. Trus Bunda inget lagi, oiya.. Azka ke Masjid boncengan sepeda sama Akung. OK lah.. jadi Bunda masukkan cerita Azka dibonceng sepeda sama Akung di review itu. Dan ALHAMDULILLAH bener... Azka denger Bunda cerita kaya gitu jadi seneng. Dia nyengir. He..he.. berarti ada kebutuhan Azka untuk memasukkan detail 'alat transportasi' apa yang digunakan dalam aktivitasnya dia. SUBHANALLAH ...
4. Sabar dan pengorbanan
Makanya ada hadist 'surga di bawah telapak kaki ibu' atau quotes 'kasih ibu sepanjang zaman, kasih anak sepanjang galah'. Karena, ALLAH memberikan perasaan yang lebih halus pada ibu (dibandingkan pada ayah), sehingga ibu yang lebih sabar menghadapi prilaku anaknya.

Informasi lain yang disampaikan :
jangan pernah sekalipun menyakiti fisik anak. Misal : mencubit, enjewer, memukul, dll. Karena dengan perlakuan seperti itu, saraf halus anak di tempat yang disakiti tersebut akan putus. Dalam Islam, anak boleh dipukul apabila di usia 10 tahun ia tidak menjalankan shalat. Pemukulan pun tidak dilakukan di wajah, tidak menggunakan alat (misalkan tongkat, ikat pinggang), tidak bertubi-tubi, dan tidak keras.
Tapi... (menurut analisa Bunda lho..) kemungkinan untuk memukul anak yang tidak mau shalat ini sangat kecil, apabila sedari kecil anak sudah memiliki teladan dari orang tuanya untuk shalat.
Moga bermanfaat ya, terutama untuk Bunda n Abi yang baru 20 bulanan j=menyangdang status orang tua.

Meja Kerja Bunda
24 Juni 2010
3.42

Tuesday, 1 June 2010

Bangun Pagi Happy

This is the story :)

Tadi pagi, saat Bunda lagi nyapu, Bunda denger suara anak terkekeh-kekeh. Kirain anak tetangga. Tapi pas di-ngeh-in lagi, ternyata suaranya si Azka. Hii.hi.. udah bercanda aja tuh sama Abi di atas.

ALHAMDULILLAH... seneng deyh menemukan Azka bangun pagi yang happy lagi, setelah sekitar 1 pekan lalu bangun tidur dengan nangis, cariin Bunda, trus mimik ASI. Abis mimik, baru deyh nyengir-nyengir.

Dan senangnya lagi... diajak mandi ga pake complain. Langsung setuju. jadi memperlancar tugas Bunda dan Abi di pagi hari niyh.

Kalo dievaluasi, mungkin malamnya Bunda sempat membaca beberapa surat yang ada di dzikir Al Matsurat. Mungkin hari-hari sebelumnya Bunda cuma baca doa tidur aja. Karena bundanya juga dah ngantuk, he..he.. Jadi, ya.. Azka bisa bobo dengan tenang dan nyenyak.

Jadi.. ayo Bunda n Abi ... konsistenkan baca dzikir Al Matsurat jadi pengantar bobonya Azka. Biar bobonya tenang, dan bangun dengan happy.

Meja Kerja
1 Juni 2010 jam 9.06

Monday, 31 May 2010

Kok Nawar ?

This is the story :)

Tadi pagi, di motor, Abi mencetuskan idenya untuk memberli celengan plastik untuk menyimpan uang yang suka diberi oleh keluarga kami ke Azka. Dan di jalan, kami bertemu dengan penjual barang-barang plastik atau alat rumah tangga. Trus... Abi meminggirkan motor, lalu terjadilah transaksi :

Abi : celengan plastik ada Bang?
Penjual : Ada
Abi : Berapa?
Penjual : yang gede 7.500, yang kecil 5.000
Abi : Kalo yang singa?
Penjual : 7.500
Abi : 5000 Bang, Boleh kurang ga?
Bunda dah terheran-heran.. ngapain siyh ditawar-tawar? kan kasian penjualnya
Penjual : Wah.. dah ga bisa Pak. 6000 lah.
Abi : ok Pak, yang singa satu.

Done.

Di jalan, Bunda ngomong ke Abi.
Bunda : Abi.. besok lagi, kalo beli sama penjual gerobak gitu, ga usah nawar-nawar ya. kasian. Itu kan udah murah.
Abi : Ngga... abi cuma tanya, ga kurang Bang?
Bunda : Nah.. itu nawar?
Abi : he..he.. iya iya. ga lagi.
Bunda : Iya Bi .. gimana kita mau saling memperkaya saudara kita, kalau usaha kecil gini aja kita masih nawar harga. Padahal modal dia kecil lho. Coba kalo ke mall, mo harga berapa juga orang-orang ga ada yang nawar. (wehh.. kumaha Bunda, emang di mall ga bisa nawar).
Abi : Iya Han... malah kalo bisa, kita belanja tuh ke pedagang-pedagang kecil gini. Bantu perekonomian dia juga.
Bunda : Iya Bi... walopun kita belom sanggup bealnja misalkan ke agen, yah.. paling kita cari toko yang pemiliknya orang lokal yah.
Abi : Iya...

Meja kerja Bunda,
2.03 31 May 2010.

back To The Right Track

This is the story :)

Mau curhat lagi niyh... GTM (gerakan tutup mulut) nya Azka kambuh lagi. Seharian bisa ga mau makan. Hiks.. Hiks... Yang paling panik adalah Uti dan Akungnya. Bunda belum menemukan solusi, terutama solusi untuk diri Bunda, mengenai karakter Azka yang satu ini. Apakah santai saja, atau ikutan stres n panik seperti Uti Akungnya?

kalau Abi, cenderung di tengah-tengah. Abi mensikapi karakter susah makan Azka adalah hal 'biasa' yang terjadi pada anak kecil. Well, idealnya siyh ga gini. Tapi kenyataannya, dan kata bu dokter juga, usia seperti Azka, sekitar 80 % kasusnya adalah makan sulit. Abi dan saudara-saudaranya pun didera sulit makan saat mereka kecil.

Tetapi, Abi juga sangat bijak. Abi tenang untuk minta Bunda mencoba nyuapin Azka. Kalaupun Azka ga mau disuapin, Abi sediain camilan dan dengan santai ngajakin Azka maem. Dan Subhanallah ... kadang tanpa diduga, Azka mau ngemil barengan Abi. Kalo sama Bunda, mungkin Azka dah bete kali ya. He..he.. Karena tiap ada Bunda, hawanya disuruh makaaannn terus. Padahal kan Azka pengennya maen2. Huuhh...

Trus, pagi ini Bunda korespon sama temen kuliah Bunda, namanya Gita (Bunda Kalila & Kaysan) yang blog nya isinya home schoolling / home education. Hm... ALHAMDULILLAH pikiran Bunda rada santai alias terbuka. Daripada fokus ke problem, kenapa juga Bunda ga memanfaatkan masa emas Azka ini dengan mengajarkan banyak hal? Lebih banyak cerita, lebih banyak ngobrol ke Azka? Paralel, pelan-pelan melatih pola makannya Azka.

OK un.. u should back to the right track. Don't be panic. Everything's allright.

Terima kasih ALLAH... yang telah menganugerahkan ilmu untuk kami.
Amien,

Meja Kerja Bunda, jam 9.20
akhir May 2010.

Monday, 24 May 2010

Mastitis

This is the story :)

jadi, karena Bunda dan Abi ingin pelan-pelan menyapih Azka, maka Bunda berfikir untuk menurunkan produksi ASI. Nah.. ASI itu kan prinsipnya supply n demand. Kalo sering ada demand, maka dia akan sering produksi. So, Bund aingin menurunkan demand-nya, dengan cara tidak memerah ASI di kantor. Jadi, pekan lalu hanya 2 hari Bunda memerah ASI di kantor. Kalo malem or siang hari weekend mah teteup, Azka mimik ASI fresh from oven. he..he..

Tapi, pagi ini Bund mengalami apa yang disebut mastitis. bengkak, keras, dan rada demam. DI kantor udah 3 kali bolak-balik nursery room, tapi hasilnya tetep cuma 100 ml. Alias macet. huhh... sakitnya euy. Mudah2an Azka nanti mimiknya di rumah banyak.

About mastitis, Bunda copaste artikel dari bayisehat.com . Ini artikelnya ...

MASTITIS merupakan istilah medis untuk peradangan payudara. Gejalanya antara lain payudara memerah, terasa sakit serta panas dan membengkak. Bila semakin parah, maka suhu tubuh meningkat hingga lebih dari 38 derajat Celcius dan timbul rasa lelah yang sangat.

Berdasarkan sejumlah studi, satu diantara dua puluh wanita yang sedang menyusui mengidap mastitis. Berdasar sejumlah studi pula, tidak sedikit wanita yang mengidap gangguan ini lebih dari satu kali.

Ada dua jenis mastitis: infektif dan non-infektif. Infektif mastitis diakibatkan oleh kuman yang masuk ke saluran air susu di puting payudara melalui perantaraan mulut atau hidung bayi Anda saat menyusui. Sedangkan non infektif mastitis terjadi karena antara lain saluran air susu yang tersumbat atau juga karena posisi menyusui yang salah.

Para wanita yang baru pertama kali menyusui cenderung lebih sering terkena mastitis. Mastitis ini dapat terjadi kapan saja sepanjang periode menyusui, tapi paling sering terjadi antara hari ke-10 dan hari ke-28 setelah kelahiran.

Apa yang perlu Anda lakukan bila terjadi mastitis?

Segera anda berkonsultasi dengan dokter anda. Dokter biasanya akan memberikan antibiotik (pastikan antibiotik tersebut aman dan tidak memiliki efek samping bagi bayi anda). Anda juga disarankan agar beristirahat dan melakukan pengompresan. Bila ditangani secara cepat dan tepat, mastitis tidak akan berlangsung lama. Anda pun tidak perlu berhenti menyusui selama anda terkena mastitis - kecuali disarankan oleh dokter anda.

Cara terbaik menghindari mastitis adalah dengan beristirahat secara cukup, menjalankan pola makan yang sehat serta menata diet yang seimbang selama menyusui. Bila hal-hal tadi kurang anda perhatikan, maka tubuh anda akan rentan terhadap infeksi, salah satunya adalah mastitis.

Apakah mastitis akan memiliki dampak buruk kepada bayi anda?

Meski terasa sakit saat terserang mastitis, gangguan ini tidak akan membawa dampak negatif bagi bayi anda. Kendatipun kuman - pada infektif mastitis - mungkin berasal dari mulut bayi anda, anda tidak perlu cemas kuman tersebut akan mengganggu bayi anda.

(Sumber: 1001 Tentang Merawat Si Kecil, Ilustrasi: CaritasNorwood.ORG)


meja Kerja, 24 May 2010.
3.36

Monday, 17 May 2010

Sabtu Indah ... Jalan-jalan Bertiga [part 1]

This is the story :)

Sabtu itu agenda kami ke dokter anak, dan 'plesiran' ala tanggal tua. he..he..

Walaupun Azka sudah ga demam, tapi kami masih penasaran sama badannya Azka. kenapa dia susah makan. kenapa ga ada keinginan untuk makan? what's wrong? apakah fisik atau psikologis nya.
rum
Sehari sebelum ke dokter, Bunda browsing dokter anak yang RUM (based on testimony salah satu miliser hypnobirthing). Dapet satu orang namanya dr. Tisa Rori di RS. Mitra Keluarga Bekasi Barat. Dokternya cantik.

Kami berangkat jam 11.30. Sampai sana, ramai banget. Azka ditimbang, beratnya 10 kg. Hm... kok ga ada kenaikan ya dibanding Februari akhir lalu ??? Duh, waktu di dokter, Bunda ingetnya berat Azka 9 kg per last Februari. Ternyata, last Februari dia juga udah 10 kg.

Trus konsultasi lah kami... Bunda cerita proses MPASI yang tepat waktu setelah 6 bulan, trus mulai mogok makan di usia 8 bulan, trus makan dengan metode 'memaksa' untuk suapan pertama, metode jalan-jalan atau mengalihkan perhatian biar makanan masuk, makan tim instan karena dia maunya itu, metode makanan diblender trus dikukus, sampai sekarang, metode makan 'apa ajah yang penting masuk.'

Nah.. analisa bu dokter ini :
1. Badan Azka ok. Berat badan di percentil 10 growth charth, means masih ok.
2. Nampaknya psikologis Azka yang ga mau makan. arena dia berfikir : aku bisa kenyang tanpa makan, aku kenyang via ASI or sufor. Jadi ada indikasi Azka malas mengunyah.
3. Menyarankan disapih. Pelan-pelan, dan yang paling tau caranya adalah ibunya.
4. Pemberian vitamin ga perlu, trus Bunda tanya, kalo sangobion drops gimana. Dan dokter pun menyatakan ga papa. 1 ml sehari sekali.

Lanjut besok ya... insyaALLAH.

Friday, 14 May 2010

Suhu Tubuh Azka sudah Normal


This is the story :)

Ingin mengabarkan dulu, ALHAMDULILLAH per pagi tadi Azka tubuhnya normal. Setelah kemarin malam dipijat sama Bu Nur (tukang pijat langganan kami).

Hm... kami memutuskan Azka untuk dipijat karena ada gejala otot terkilir. Maklum, permainannya adalah membanting diri dari guling. Pokoknya urusan mencari mainan, Azka mah jagonya deh. benda apapun bisa dijadikan mainan sama dia.

Oya, gejala otot terkilir karena tiap dipegang di bagian leher belakang, dia ga mau. Jerit kaya kesakitan gitu. Dan di bagian situ, juga panas banget kalau diraba. Terus, panggil Bu Nur, diurut pelan, dan dibalurin bawang merah biar hangat. Resep tradisional euy.

ALHAMDULILLAH per pagi ini Azka suhu tubuhnya normal. Bunda telepon Uti di rumah jam 10an juga katanya udah ga anget.

Senangnya kalau anak sehat. Rizki yang tiada tara untuk kami (tentunya juga rizki-rizki lainnya. he..he..).

Trus, tadi pagi mau berangkat kerja, Bunda ucapin terima kasih buat Azka. Kira-kira Bunda bilang gini ...

Terima kasih ya Azka, sudah sabar dan kuat menjalani hari di mana Azka badannya panas kemarin. Dan terima kasih selalu dari kami karena selalu menjadi anak yang menyayangi Bunda dan Abi, walau bagaimanapun kondisi kami.
Sebagai hadiah, insyaALLAH nanti Bunda belikan buku. Ada 2 pilihan ...


atau yang ini ....



Well.. kita lihat aja di Sabang, yang ada yag mana.
kalo beli dua-duanya... haduh.. bisa ada yang complain niyh. he..he..
ok ya.. istirahat dulu :)

Dan.. setelah ke Sabang, ternyata kedua buku itu tidak ada! Tapi, Bunda teteup beli buku .. Buku My Animal First Stories keluaran pustaka lebah. Yang isinya ada 8 cerita binatang. Tapi yang bunda beli ga ada bonus vcs n lembar aktivitas. he..he.. mkalum, belinya ngecer, harga Rp. 20.000.

Wednesday, 12 May 2010

ASI, Penurun Panas yang Handal

This is the story :)

Saat tulisna ini dibuat, kami masih mendapat laporan dari Uti di rumah kalau Azka badannya masih panas. Well, ga papa. insyaALLAH akan segera membaik.

Badan Azka panas dari kemarin sore, setelah bangun tidur, sebelum mandi. Sama Uti masih dimandikan, karena (menggunakan perabaan), badannya anget aja alias sumeng. Ya.. kalo Bunda kira sih masih di bawah 38.5 dercel (derjata celcius). Tapi sama Uti udah dikasih tempra.

Pas waktu Maghrib, kami sampai rumah, badan Azka memang teraba agak hangat. Memang ga selincah biasanya, tetapi juga ga lemes banget / lethargic. ALHAMDULILLAH, menjelang malam, suhu tubuh normal, mimik ASI, terus bobo lelap.

Tengah malam, sekitar jam 00.46, Azka mulai rewel. Agak terbangun sedikit, dan Bunda raba badannya panas. Panasnya merata, kepala, badan, tangan, kaki. Bunda taksir di atas 38.5 dercel. Ga bisa ngukur pake termo, karena anaknya bergerak terus. Terhitung dari situ, setiap sejam dia rewl, terbangun sedikit, dan mimik ASI terus. Subuh hari, Bunda tes pake termo, suhunya 38.9 dercel. Hm... agak tinggi, tapi insyaALLAH ga papa.

Azka bangun cukup pagi, jam 05.00. Biasanya kalau sudah bangun, dia akan langsung asik dengan buku mobilnya ditemani Abi. Sembari Bunda menyelesaikan pekerjaan pagi hari. Tapi... sejak bangun, Azka rewel... minta mimik ASI lagi. akhirnya ketiduran lagi. Bangun sekitar jam 06.40, minta mimik ASI.

Nah... saat mimik ASI pagi, Azka keringetan. panasnya berangsur turun. Hanya kepala yang teraba panas. Kaki dan tangannya normal. Dan sewaktu kami berangkat, Azka sudah mau main keluar dan lincah. ALHAMDULILLAH. he..he..

Nah, dari sini Bunda menyimpulkan bahwa ASI adalah penurun panas yang cespleng.

Namun nampaknya menjelang siang panasnya naik lagi. Hm... moga segera sembuh ya sayang. InsyaALLAH besok Bunda dan Abi di rumah. Jadi Azka bis amimik ASI sepuasnya, bercanda sama Abi sepuasnya biar sakitnya sgeera sembuh.

Diagnosa kami, Azka kayanya masuk angin. He..he.. sebenernya ga ada istilah masuk angin siyh dalam bidang medis. Ini untuk memudahkan kami aja. CIrinya badan panas, pup agak cari (mungkin kembung ya...) dan yang memperkuat diagnosa ini adalah panasnya tanpa disertai batpil, dan juga tadi pagi Azka buang gas dengan volume suara yang 'besar'. Ha..ha..

Jadi inget akhir Februari lalu, Azka juga badannya sempat panas tanpa ada gejala lain. Tapi syukurlah... dalam 3 hari badannya sudah normal kembali.

Meja kerja Bunda,
12 May 2010.
12.50

Wednesday, 3 February 2010

Uti yang Kreatif

This is the story :)

Lagi-lagi tentang makan. he..he..

ALHAMDULILLAH Azka udah mulai gampang makan. Cuma.... kalo makan nasi n sayur n lauk, tangannya sibuk nge-gado-in sayuran plus lauknya. Misalkan makan denganmenu sayur sop dan tempe. Tangannya Azka sibuk mencomot wortel, buncis, dan tempe. Dia seneng banget gadoin Jadi nasi yang masuk sedikit. Mana kenyang ya... Secara nasi kan juga karbohidrat sebagai sumber energi.

Trus Uti kemaren siang sambil ngelonin azka mikir gimana caranya biar maemnya banyak. ALHAMDULILLAH ada ide ... Sayur dan lauknya diblender, trus dicampurkan ke nasi tim, kemudian dikukus lagi.

Hasilnya ... SUBHANALLAH ... Azka makannya banyak. Mungkin karena kekenyangan sorenya dia pup (he..he.. karena kalau sore dia jarang pup).

Well... Emang ya, kalo dealing sama baby itu musti kreatif dan inovatif.

Meja kerja Bunda
3 Februari 2010
9.17
Powered By Blogger