Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Thursday, 30 June 2016

Shafa - Marwah

This is the story :)

Cerita ini musti nempel di bawah alam sadar Bunda. Biar tetap fight.

Jadi, waktu hajar ditinggal di padang pasir Mekkah, berdua dengan Ismail yang masih bayi, waktu itu ismail menangis. Ia nampak kehausan. hajar mencari-cari air. Sesungguhnya yang ia lihat adalah bayangan fatamorgana air di bukit Shafa dan Marwah. Tujuh kali hajar bolak-balik untuk menemukan air. Tapi kemudian Allah malah menganugerahkan air dari tendangan-tendangan yang dibuat oleh Ismail kecil.

Pernah Bunda baca ada hikmah dari cerita tersebut. Yaitu, kewajiban kita sebagai manusia adalah ikhtiar, menyempurnakan 'tujuh kali sa'i'. Jika kita belum memperoleh hasil yang kita inginkan, berarti kita masih belum mencapai tujuh kali sa'i kita. Terus melangkah. Allah yang akan memberikan hasilnya.

Ayo Bunda, semangat berubah. Untuk semua hal yang lebih baik. Bismillah. Niat ikhlash karena Allah, maka Allah yang akan memberikan semua penjagaan terhadap apa yang kita khawatirkan. in sya Allah. Aamiin.

Thursday, 10 November 2011

Belum Jadi Punya Adik

This is the story :)

30 Oktober tahun ini usia Azka genap 3 tahun. Menurut Bunda dan Abi, usia ini sudah cukup rasanya Azka untuk memiliki Adik. Kami pun berikhtiar. Bulan Juli 2011, Bunda lepas IUD.

Lalu, di bulan Oktober, Bunda tidak mendapatkan menstruasi lagi. Alhamdulillah melalui testpack di hari Sabtu, 29 Oktober 2011 hasilnya positif, atau Bunda hamil.

Untuk memastikan, hari rabu tanggal 2 November 2011 kami periksa ke Dr. Dwi Rasyanti SpOG. Melalui USG Transvaginal, Alhamdulillah hasilnya positif.

Kamis keesokan harinya, Bunda ngantor seperti biasa. Bersama Abi, naik motor. Siangnya di kantor Bunda keluar flek coklat, tetapi sedikit sekali. Bunda ignore hal tersebut. Sorenya Bunda dan Abi sebelum pulang ke Supermarket, membeli susu Azka.

Lalu... Menjelang maghrib, masya ALLAH, ternyata bunda keluar flek pendarahan seperti haid. Malamnya pun berlanjut seperti itu.

Jumat pagi, Bunda memutuskan ke dokter. Diagnosanya adalah abortus imminen. hari itu, Bunda berlinangan air mata. Sedihhh banget. Bunda diresepkan obat progesteron, obat berbentuk peluru, yang penggunaannya langsung dimasukkan ke (maaf) vagina atau rectum.

Bunda bedrest... Tapi pendarahan tak kunjung berhenti. Bunda dan Abi udah pasrah. Ga tau cara mempertahakannya gimana. Perut masih kram juga..

Selasa, 8 November 2011 Bunda cek lagi ke dokter. Setelah di-USG transvaginal, kantong rahimnya sudah tidak ada... Bunda mengalami abortus spontan complete. Masya ALLAH, sedihnya macem-macem. Sedih karena kehilangan, sedih karena merasa bersalah karena careless menjaga rahim, sedih karena mungkin ga bisa menjaga emosi, kurang banyak berdoa, dll.

Dari sini, Bunda lebih bisa memaknai bahwa anak itu adalah rejeki. Rejeki karena ibunya diberi kesehatan fisik dan psikis dari ALLAH, janinnya diberi kekuatan, dan rejeki.. ALLAH yang memberikan penjagaan yang sempurna dan paripurna untuk janin tersebut.

Ya ALLAH, ampuni kami ... Kami pasrahkan semuanya padaMu. Amiin.

Thursday, 13 October 2011

Be Wise on Expressing Your Writting

This is the story :)

Pagi tadi emosi Bunda sempat terpancing dengan sebuah kalimat yang bunyinya :

1. Kerja : makin tingi jenjang karier, makin sikut-sikutan.
2. Bisnis = makin tinggi evel bisnis kita, semakin banyak org yang kita bantu untuk ikutan sukses.

Kalimat 2 = Overall agree, idealnya begitu.
Tapi ternyata ... ada juga kok pengusaha / perusahaan sukses yang memberikan gaji ke buruhnya hanya sebesar UMR, tanpa tunjangan kesehatan, tanpa jamsostek, tanpa status yang jelas kecuali kontrak tak berakhir. Contoh konkretnya, adik ipar Bunda yang bekerja di sebuah perusahaan perakitan sparepart vehicle. Dia bekerja dengan gaji UMR, tanpa jamsostek, tanpa kepastian status.

Kalimat 1 =
Bunda bisa terima statement itu apabila yang menulis adalah seseorang yang pernah berada di posisi up management level, dengan intrik2 sikut-sikutannya, dan beberapa kali di industri yang berbeda. Itu make sense. Atau ada hasil survey yang dilakukan AC Nielsen, atau Boston Consulting Group tentang itu.

Tapi kalau yang menulis tidak pernah berada di posisi itu, dan hanya dari 'katanya-katanya' atau cerita satu dua tiga orang, wahh... sangat tidak tepat menuliskan kalimat itu Karena :
1. Kalo Bunda mau lebay, Bunda bisa menyebut itu black campaign terhadap kalangan profesional, seolah mau memen-stig ma negatif kan kalau professional yang ada di up management level ga lepas dari sikut menyikut, entah disikut, atau menyikut. Heyy that's not how professional achieved! Kami atau siapapun bisa mencapai level up management karena (pastinya!) karunia ALLAH, melalui performa kerja yang diupayakan selalu good / excellent, belajar dari kesalahan, dll.
2. Secara implisit, kalimat pertama dibandingkan kalimat kedua mengesankan bahwa profesional di up management tidak bisa bantu orang banyak. ok, mungkin orang ngantor ga bisa bantu orang lain konkret dengan merekrut seseorang bekerja lalu punya gaji melalui dia. Tapi... up management level, jikalau dia mengimplementasikan zuhud (menahan dunia) dia bisa juga tho menjadi filantrop, dia bisa toh bikin panti asuhan atau ngasih modal ke saudaranya yang mau jualan, atau bikin masjid. 

The point is... kalau kita tidak menjalani sesuatu atau membenci sesuatu, ya ga usah ngejelekin yang ga kita suka. Apalagi di forum yang bisa dibaca oleh seluruh dunia, dengan akses tak bertepi. It's a bad manner, it has no ethics.

So... please not to judge something or give a bad opinion about something, unless U've been there and/or done that in many ways; and/or U can figure the accurate and reliable numbers survey about it.

Dan.. ga semua yang kita cap buruk adalah buruk 100 %, atau yangkita dewakan baik adalah baik 100 % tanpa cacat. Kesempurnaan adalah milik ALLAH SWT.

Please... be careful kalau menulis sesuatu ya...
(ini juga auto correction n suggestion buat Bunda yang ga boleh emosi kalo mau comment terhadap sesuatu).

Baiklah, mungkin itu sedikit renungan sore ini. Moga kita semua bisa jauuuuhhhh lebih wise mengontrol emosi, mengekspresikan diri, dan menjaga perasaan orang lain.

MK C3 - C4.

Monday, 15 November 2010

Telor Puyuh Lin

This is the story :)

Kapan ya bunda bisa tegas sama Azka mengenai perlakuan dia terhadap makanan? Bunda khawatir aja kalo Azka udah ga fun dengan makanan, bisa-bisa dia lebih 'parno' sam amakanan. Hm... gimana ya? Tapi proses musti dimulai.

Jadi gini... Azka itu, kalo lihat jeruk / tomat / salak, pokoknya yang bentuknya bulat, pasti akan dilempar-lempar. Dianggap bola kali ya. Sejauh ini, Bunda ngebilangin gini,
'Waduh.. jeruknya dilempar, nanti rusak lho... Sini coba dibuka. Tuh... lembek'.
Nasibnya jeruk itu teteup dimakan siyh, he..he.. setelah dilempar2. Begitupun dengan salak.

Mustinya ga gitu ya. Wong namanya makanan kan harus diperlakukan selayaknya makanan. Kalo emang mau dimakan, ya ga boleh dilempar-lempar. Musti dibawa dengan hati-hati, ditaro dengan benar, dan disimpan di tempat yang rapi, alias ga tergeletak gitu aja dimana-mana.

Ada kejadian yang bikin Bunda miris n sampai saat nulis ini, Bunda masih 'berhutang' sama Lin.

Lin, nama lengkapnya Rosalina. Rumahnya di depan gang. Usianya sekitar 9 tahunan. Minggu pagi, kami duduk-duduk di depan warungnya Lin. Lin baru aja membeli telor puyuh dari tukang sayur. Isinya 5 butir. Ia menawarkan ke Azka. Trus ia berikan satu butir ke Azka. telurnya digenggam sambil erta-erat sama Azka. trus Bunda tawarin ... 'dikupas ya telurnya.' Azka mengiyakan.

Terus Bunda kupas. Azka ikut-ikutan, Bunda biarkan Azka mengupasnya. Tapi, Azka kurang erat memegangnya... telor puyuhnya jatuh.

Bunda : yaa... jatuh. Mba Lina, maaf ya, Azka ga sengaja jatuhin telor.
Lina : Itu ga kotor... Kan kupasnya ga sampe dalem. Baru kulitnya aja. (maksdunya baru canglkang luar. Lapisan kulit telor dalemnya ga terkupas). bisa dicuci kok.

trus Bunda ambil...

Coba yuk dilihat ... Bunda amati skeeliling telor puyuh itu.

Bunda : Mba Lina, maaf, ini kotor ternyata. Ada yang udah dikupas, kena telornya.

Lina : sambil senyum ketahan... kayanya sedih banget.

Uhh bunda jadi sedih. Mungkin Lin jajan telor puyuh itu perlu 'usaha' merayu orang tuanya... tapi kok dijatohin sama Azka ya??

Hm... ini PR besar buat Bunda, gimana caranya Azka memperlakukan makanan dengan sopan, tetapi tidak perlu sampai membuat dia 'il-feel' sama makanan.

Trus.... Bunda punya kewajiban 'mengganti' telor puyuh nya Lin.
InsyaALLAH .. kalo tukang sayurnya lewat, Bunda belikan.

kantor baru bunda
jam 5.
15 November 2010



Tuesday, 21 September 2010

No Excuse!

This is the story :)

of parents ... There's no more excuse to leave tahajud prayer at night.
It is because our dependent to God is as big as HIS creation. We could look after, plan, act, and evaluate the best things to our beloved children, still .. there are many uncontrolled variables that we couldn't watch over.
Worried is not the answer, over protected our children is also a fallacy. We are please to be glad because we have ALLAH, The Most Protector, The Most Great, The Most everything for our family.

O my Lord... we ask for your strength and willingness, so that we are able to rise on one third of your night. Because we have plenty of things to ask from you,
Amien...

Thursday, 24 June 2010

Bunda Cuma Perlu Jadi Bunda untuk Bisa Jadi Lebih Baik

This is the story :)

Bunda cuma perlu jadi bunda untuk jadi orang tercantik yang selalu dikagumi tatapan jutaan mata, ga perlu jadi sekaliber ratu kecantikan sejagad.
Karena, Ada sepasang mata bening bulat tak berkedip yang selalu menatap wajah Bunda, saat dia mimik ASI, atau bercanda di kasur. Dan tatapan itu jauh menyejukkan dan membahagiakan dibanding tatapan jutaan orang yang belum tentu tulus.

Bunda cuma perlu jadi bunda untuk membuat diri Bunda pintar. Boleh juga sih, meraih gerlar S3, karena ALLAH akan meninggikan derajat orang yang beriman dan berilmu.
Karena, ada milyaran sinapsis / neron atau apalah namanya yang haus minta diisi informasi, dan tugas Bundalah untuk membuat diri bunda pintar, agar sel-sel cerdas yang teak pernah puas itu semakin 'haus' ilmu.

Bunda cuma perlu jadi bunda untuk jadi orang yang syukur dan sabar. Ga perlu jadi pertapa atau filosof untuk tau apa itu syukur dan sabar.
Karena, ada sosok mungil hadiah dari ALLAH yang seiring berjalannya waktu semakin berkembang kebaikannya. Kesehatan fisiknya, kelincahan badannya, bicaranya, emosinya, dan sebagainya. Dan sosok mungil itu pun kerap melatih kesabaran jikalau ia sedang tidak nyaman, keukeuh sama kemauannya. (Ha..ha.. jadi inget Abi yang selalu mentertawakan Azka kalo Azka dah bisa 'ngebantah' kami)

I LOVE BEING BUNDA
n
ABI LOVES BEING ABI

Meja Kerja,
8.44 24 Juni 2010

Wednesday, 23 June 2010

Gadis Cilik Manis

This is the story :)

Kalau Bunda pulang kerja, Bunda kerap bertemu dengan seorang pengamen cilik yang usianya Bunda taksir sekitar 10 tahun. Dia -maaf- tuna wicara. Nyanyi nya pun hanya menggumam. Tapi anak ini manis, kulit sawo matang, dan rambutnya pendek. Ahh... kalau Bunda mengingat sosoknya, air mata ini pasti berlinang.

Bunda ga tega ... tapi Bunda pun belum berbuat apa-apa untuk dia. Ga tega karena di usia yang seharusnya dia bercengkerama dengan orang tua, sekolah, bermain riang dengan anak sebayanya, menikmati makanan bergizi, dia malah 'bertarung' di jalanan. Sungguh... Bunda kalau ga dijemput Abi dan musti naik bus sendiri, pulang sampai rumah rasanya lelahh... sekali. Mungkin ini karena polusi, baik udara ataupun kebisingan yang memapar tubuh Bunda di jalanan. Bagaimana dengan gadis itu, yang -mungkin- sepenuh hari ia habiskan di jalanan.

Kalau udah begini, Bunda jadi terpacu pengen kerja lebih keras, punya duit banyak, dan bisa berbuat untuk gadis itu dan teman-temannya. (Doanya ya.. Mudah-mudahan ALLAH memperkenankan pintu rizki gadis cilik manis itu, lewat siapapun. Mungkin Bunda, Abi, Azka, atau orang lain yang lebih baik). Trus, Bunda juga pernah mengkhayal dan membahas ini barengan Abi. Misalkan kami memiliki keluasan rizki, pengen deh agar gadis itu stay di rumah. Untuk kami sekolahkan, untuk teman bermain Azka. He..he.. semoga, Bunda ingat ya pernah nulis kaya gini. Biasanya karakter manusia, kalo urusannya sama rizki itu, bawaannya kuraaaannn terus. udah dikasih A, minta A'. Dikasih A' minta A'' dst. Jadi yang udah punya A juga ga ngebagi-bagi A nya itu.

Meja Kerja,
jam 1.22
23 Juni 2010

Wednesday, 14 April 2010

Bunda yang Sabar Dunk....

This is the story :)

Hiks...
Sedih kalau mengingat kejadian ini. Cuma... boleh lah di-rewine kembali, untuk diambil pelajaran.

Pagi hari, sebelum ngantor, Azka selalu kami mandikan. Hal ini untuk meringankan tugas Uti, dan juga untuk membiasakan Azka bangun n mandi pagi. Tau kan, kalo pagi-agi itu terkadang terburu-buru untuk berangkat.

Di suatu pagi, setelah mandi, Azka ga mau pake baju. Hm... 2 pekan terakhir ini, Azka g amau dipakein baju setelah mandi. Maunya langsung lari-larian. Kalau kita kejar, dia makin berlari sambil ketawa2. ha..ha.. Lucu juga siyh. Cuma kan kami khawatir Azka masuk angin / kembung. Trus... Bunda 'paksa' lah si Azka untuk duduk di pangkuan Bunda, sambil Bunda pakaikan kaos dalem. Yah.. berhubung dipaksa, jadilah dia mencoba meronta, posisi nunduk2 mo bangun dari duduk gitu. Trus, karena duduknya deket meja,, jadinya... JEDUG !!! kejedod deyh dahi profesornya Azka. Dan... pastinya, nangis.

Bunda, yang lagi digelayuti nafsu n ga sabaran, malah semakin memanasi suasana dengan ngomong ... Tuh Azka,, makannya kalau pake baju tuh nurut.

Hweks... siapa bunda, emangnya tau, Azka bakalan kejedod? Emangnya penyebab Azka kejedod karena Azka ga nurut Bunda? Huhhh.... Itu semua dah jalannya. dah takdirnya kejedod. Dan ga usah ngomel2 lagi. Azka juga ga kepengen sakit kejedod.

Lalu setelahnya... teteup.. untuk memperbaiki hubungan Bunda dan Azka, Bunda minta maaf ke Azka, sambil cium tangannya, dan ngelus2 kepalanya yang bersandar di badan Bunda. He..he.. Azka ini kalo lagi nangis heboh, lumayan bisa ditenangin dengan mimik ASI. Bunda juga lebih bisa menenangkan Azka saat dia lagi mimik ASI.

Meja Kerja Bunda,
jam 11.23
14 April 2010

Friday, 30 October 2009

Azka's First Birthday

This is the story :)

SUBHANALLAH Azka hari ini 1 tahun.

Giginya udah 8,
jalannya dah kenceng banget (walopun berpegangan pada 1 jari agar dia merasa safety dan comfortable),
komunikasi pasif dah nyambung. Komunikasi aktif diwakili oleh bababp.. hmamamam... hpapapa... zzzhhh,
rambutnya perlahan tapi pasti numbuh dengan halus, Motorik halusnya makin terlatih (indikasi : dah bisa menjumput batu seukuran kacang merah pake jarinya dia)
emosinya masih manja Hwaa..Hwa...
Mimik ASI nya (teteup) doyan.

ROBBI... Mudah2an Azka senantiasa dalam Rahmat dalam segala kebaikan, perlindungan dariMU dari segala keburukan, sehat selalu, makin cerdas, sholeh, mandiri, kreatif, ceria. AMIEN.

Dan yang Bunda pengeeeen banget dari Azka : Moga2 Azka semakin menyukai masakan yang Bunda bikin untuknya. Dan semoga Bunda dan Abi makin pintar dalam merawat dan mendidik Azka.

Selamat Ulang Tahun Putraku sayang...
Kehadiranmu adalah hadiah terindah menjelang ulang tahun pernikahan Abi yang pertama tahun lalu.

Meja Kerja Bunda
30 Oktober 2009
jam 3.
-Kayanya Azka mulai batpil. hiks... :(-

Wednesday, 12 August 2009

Curhat Bunda

This is the story :)

Bunda sayang banget sama Azka, Bunda pengen yang terbaik untuk Azka. Tapi karena sayang itu, Bunda 'memenjarakan' diri Bunda untuk terhindar dari kesalahan. Padahal salah itu wajar kan. Dan dari salah itu menjadi pelajaran yang bermanfaat. Karena tak ingin berbuat kesalahan, Bunda jadi ga percaya diri dalam merawat Azka. Aduhh... kalo boleh complain, ini ga 100 % kesalahan Bunda tho.

Bunda dibesarkan dalam keluarga yang tidak pernah merawat anak bayi atau anak kecil. Kalaupun ada anak kecil, mereka hanyalah saudara yang paling-paling bermalam di rumah hanya beberapa malam.

Trus, Bunda adalah working mother. Walaupun terkadang mood nya ups and down, but trully, Bunda menikmati dunia kerja ini, dengan segala pleasure & suffer nya, hectic n lesure nya. Walhasil, Bunda hanya telatih merawat Azka 2 hari dalam sepekan. Hari lain, paling hanya 3 jam produktiif, selebihnya Azka Azka dirawat sama Uti.

Nah... akhir pekan ini, Bunda akan ditinggal Uti dan Abi. Semuanya keluar kota. Dan Bunda menjaga Azka di rumah dengan Mba Siti. Adouhhh,,, bener2 ga pede deyh. Ga tau kenapa, hawanya takut.

Na'udzubillaahimindzaalik... Semoga ga terjadi lagi.

Kalo Bunda yang mengurus Azka di rumah, kayanya ada aja deyh kejadian ga enak. Mulai Azka nyungsruk dari kasur Uti, Azka kecengklak sehingga badannya panas, Azka ga mau maem sampe (kata Uti) pipinya kecil. Ya ampyuunn,,,, Azka dijagain Bunda kok malah begini siyh?

Hiks... rasanya mo nangis deyh. luruh sudah kepercayaan diri ini.

Eits... tapi ntar dulu. Bunda ga percaya diri kalau sendiri dengan Azka. tapi kalau ada teman (teman = seseorang yang Bunda percaya mengerti dan sepaham dalam hal kepengurusan anak). Dan.. hari Jumat ini Bunda dan Azka mau 'ngendon' di rumah Tante Arie. he..he.. Azka bisa maen seharian dengan Adek Rusyda. Bunda juga bisa share macem2 sama Tante Arie.

Hari Sabtu nya, Bunda udah booking Oma Yani untuk stay di rumah. Malah nginep dari malem sabtu. Pokoknya Bunda ga mau hanya berduaan sama Azka. Biarin orang bilang apa, yang penting Bunda ada percaya diri dan Azka terjaga dengan baik.

Meja kerja Bunda jam 1.33
12 August 2009.

Tuesday, 14 July 2009

Sakit

This is the story :)

Di rumah kami, saat ini sedang berlangsung episode sakit.

Awalnya adalah Uti dan Akung yang baru pulang dari Kuningan, Minggu, 5 Juli 2009 lalu. Berbarengan dengan itu, Azka mulai pilek.

AKhirnya, Senin, 6 Juli 2009 Hani izin ga ngantor untuk menjaga Azka karena Uti perlu istirahat. Azka maemnya udah mulai susah.

Hari terus berjalan, dan nampaknya pileknya makin menjadi. AKhirnya, hari Kamis, 9 Juli 2009 kami membawa Azka ke dr. Hendra. Duh, ini yang Bunda masih agak gamang, dr, Hendra ngasih obat puyer, antibiotik, dan mucopect. walahh... sebanyak itu??? Bunda browsing sana-sini, tanya-sana-sini, dan akhirnya obat-obat itu tetap kami berikan ke Azka. Bismillah... semoga ini adalah ikhtiar untuk menyembuhkan Azka, dan semoga dosisnya memang dosis yang ringaaaannnn sekali, yang pas untuk bayi.

Lalu, Ahad, 12 Juli 2009 jam 02.00 dini hari badannya Azka panas. Dia rewel. Maunya digendong Abi. Jadilah malam itu, sampai pagi, sampai keesokan harinya ia digendong Abi. Sore harinya, ALHAMDULILLAH badan Azka sudah tidak panas lagi.

Senin jam 2 dini hari, Bunda yang demam. Ternyata ASI Bunda bengkak. dan paginya, Bunda izin ga ngantor. Bunda punya waktu banyak bersama Azka. Tapi Bunda lemes, pusing, meriang. Mainnya pun ga optimal. Walhasil, kadang Azka yang udah mulai polah dan lincah mengalami defisit 'penjagaan'.

Hari ini, Selasa 14 Juli 2009 jam 4 dini hari tadi, Azka badannya panas lagi. Tapi ALHADULILLAH ga serewel waktu hari Ahad. Kalo bercanda malah masih bisa ketawa. Panasnya pun ga seluruh badan, hanya badan ke atas.

Ya Robb, angkatlah penyakit2 kami... Sembuhkanlah Azka. Amien.

Meja Kerja Bunda jam 10.32
Selasa, 14 Juli 2009

Friday, 10 July 2009

Sabtu 4 Juli 2009 (Dan Berharap Hanya Sekali Saja)

This is the story :)

Azka hampi menginjam 8.5 bulan. Tetapi rasanya, kepercayaan diri Hani untuk menjaga Azka masihlah tipis. terbukti, Jika Hani berdua dengan Azka, Hani akan merasa cemas dan gugup. Padahal, yang sudah-sudah, ALHAMDULILLAH semua baik-baik saja. bahkan, hani sangat menikmati waktu emas untuk berduaan dengan pangeraan tampannya itu.

Mungkin, ketidakpercayaan diri Hani dalam merawat Azka adalah karena Hani takut berbuat kesalahan, takut menyakiti Azka, dan sepertinya, bacaan apapun yang sudah dibac, tetap tidak memenuhi pengetahuan Hani mengenai tumbuh kembang Azka. SUBHANALLAH... berarti masih dalam lagi ilmu yang harus digali untuk mendidik anak.

Tetapi... di hari Sabtu itu hani belajar sesuatu, bahwa anak adalah memang amanah kita untuk kita rawat dan didik sebaik mungkin. Namun, tetap penjagaan yang utama adalah pemilik sejati anak itu, yaitu ALLAH SWT.

Ceritanya begini ...

Sabtu siang, di rumah hanya ada Hani dan Azka. Azka dah mulai gesit, dah coba-coba berdiri, bahkan dititah pun dia seneng banget. Pokonya dah ga bisa ditinggal. Trus, siang kan waktunya bobo. Setelah mimik buah, Hani menidurkan Azka di kamar Utinya. Setelah Azka lelap, Hani lingkari tempat tidur Azka dengan bantal dan guling. Hani pun bergegas makan siang. Makan siang pun dilakukan di depan pintu kamar.

Makan siang selesai, lekas singkirkan piring, ambil minum. Saat menuangkan air dari dispenser, Hani mendengar tangisan azka. Sambil emmegang cangkir berisi air, Hani berlari menuju kamar Ibu.

MASYAALLAH... Azka sudah di pinggir kasur, sudah posisi mau merosot dari bantal yang disusun Hani untuk tameng. Hiks... Azka pun meluncur. Dalam sekejap... Hani refleks melempar gelas ke kasur, dan menangkap Azka. Kejadiannya cepat sekali. Agak lupa, apakah Azka sudah menyentuh lantai apa belum (seingat Hani siyh belum). Dan posisi meluncurnya adalah badan sisi kanan Azka dahulu yang sampai ke lantai.

Azka pun menangis kejer... Setelah 2 tarikan tangisan, di gendongan hani sambil dipeluk erat, dan dielus-elus kepalanya, sambil Hani minta maaf dan mengatakan 'It's OK, ga papa Nak', Azka berhenti menangis. Yang terjadi selanjutnya... kaki Hani gemetar, Jantung berdegup kencang, dan air mata mengalir.. bahkan lebih deras daripada air mata Azka. Hani pun duduk. Azka yang melihat bundanya menangis, ikut diam dan ia melihat wajah Hani dengan muka heran. Keduanya duduk dan saling diam. Hani tetap merasa bersalah...

Kemudian, Hani telepon Mas Agus yang sedang daam perjalanan kampanye ke Senayan. Pastinya, bicara di telepon sambil menangis. Hani ceritakan semuanya. Dan mas Agus, tidak panik. hanya berkata "Ga papa, badannya panas ga?". ALHAMDULILLAH badannya ga panas.

Ouh anakku, penjagaan terbaik memang oleh ALLAH SWT> Seingin apapun Bunda dan Abi menjagamu, kami aalah makhluk yang lalai... Tetapi sungguh, kami benci kelalaian dan kebodohan itu.

Maafkan Bunda ya Azka.

Semoga Bunda lebih pintar dalam merawat dan mendidik Azka. Amien.

Meja kerja, 10 Juli 2009 jam 11.40

Wednesday, 1 July 2009

Berlatih Berfikir Out of The Box

This is the story :)

Pola pikir, bertindak, mengambil keputusan, dan osftskill yang lain sangat dipengaruhi lingkungan di mana kita berada. Kami, orang tuanya Azka pun dibesarkan dalam pola hidup yang demikian. Dan saat ini, kami sedang belajar dan memahami bahwa anak adalah anak itu sendiri, anak bukanlah hasil angan-angan kita yang ingin kita cetak pada dirinya. Anak adalah ia sendiri, keputusannya adalah keputusan yang akan dia terima sendiri konsekuensinya, dan sebagai orang tua, tugasnya adalah mengarahkan segala decissionnya pada hal yang positif.

Jadi nanti, apapun cita-cita Azka, insyaALLAH akan kami support. Tentunya, cita-cita yang bisa menjadi sarana ia untuk hidup sukses akhirat dan dunia. insyaALLAH kami hanya akan membatasi langkahnya pada koridor syar'i. Artinya, apapun jalan hidup yang ia pilih, asalkan ia masih berorientasi pada kehidupan akhirat, insyaALLAH akan kami bimbing.

Kemarin kami berdiskusi mengenai persiapan biaya pendidikan Azka. ALHAMDULILLAH kami mulai bisa nabung untuknya. Di tengah syukur kami pada ALLAH yang Maha Kaya itu, Hani berfikir yang ga biasa. Berfikir out of the box. Berfikir tentang cita-cita dan kepercayaannya pada Sang Buah Hati.

insyaALLAH kami nabungnya santai saja. Kan... Azka ku cerdas, Semoga ia bisa mendapat beasiswa di perguruan tinggi untuk meraih gelar sarjana, master, bahkan doktoral.
Selain itu, Hani bermimpi juga untuk mengikutkan Azka di program exchange student kelak saat dia SMU.


Amien.... Semoga ini menjadi doa yang terlantun dari orang tua, dan tidak menjadi obsesi yang malah menyiksa psikis anak.

WA Lt. 11 jam 9.50
1 Juli 2009

Monday, 25 May 2009

Perjuangan Melanggengkan ASIX (ASI Eksklusif)

This is the story :)

ALHAMDULILLAH, Azka sampai saat ini belum nyobain sufor walau setetes pun. ASIX, tentunya dah lulus dunks. :) Tapi... Untuk bisa melanggengkan ASIX perlu kesabaran dan niat yang kuat. Tak terkecuali Hani... Kadang kalo loads kerjaan lagi tinggi, dan pengen nyantai browsing di depan kompie, rasanya maleeessss banget untuk menuju nursery room di lantai 15. Cuma, kemalasan itu sempat disingkirkan dengan niat menunaikan kewajiban sebagai Ibu, memenuhi hak anak, mensyukuri anugerah dari ALLAH SWT atas ASI yang berlimpah ini, dan tentunya... upaya agar cashflow tidak jebol gara-gara sufor. he..he..

Ternyata ujian Hani kalah berat dibandingkan teman-teman kantor member nursery room. Niyh dia ceritanya :
1. Mba Domas, yang tiap pulang harus naik taksi dengan ongkos Rp. 25.000, karena mengejar untuk menyusui anaknya. Stok ASI nya Bu DOmas ini ngepas aja, ga terlalu banyak.
2. Mba Qay, yang karena urusan visit ke reseller atau distributor, kadang harus memerah di dalam mobil kantor. Wuihh... Ga nyaman banget. Pasti posisinya nunduk gitu, biar ga kelihatan driver atau orang dari luar. Tapi dasar Mba Qay orangnya rame, hal ini jadi cerita lucu untuk kita-kita. :)
3. Mba Debora. Sebagai sales blackberry yang seringnya keluar, entah ada event atau visit ke customer, musti pintar memanage waktu untuk bisa memerah ASI.
4. Mba Siti, Walaupun sudah mix dengan susu formula, tapi dia sebegitu sabar dan telaten untuk mengumpulkan tetes demi tetes ASI perah untuk buah hati tercinta.

Subhanallah... jadi terharu dengan para Ibu ini. Dengan berbagai kondisi, tetap mengusahakan yang terbaik untuk anaknya.

WA Lt.11 jam 1.10 PM
25 May 2009

Friday, 3 April 2009

Rewrite the Sweetest Poem Ever

This is the story :)

Jadi pengen me-rewrite sebuah poem yang ditulis oleh Nink, sahabatnya Hani. Pusi ini dipersembahkan olehnya, spesial untuk pernikahan kami berdua. Poem ini sudah dimuat di blog pribadinya Hani.

Ini puisinya ...

DEAR LOVE,

Kebaikan apakah yang telah kulakukan hingga aku dipertemukan denganmu?
Derma apakah yang telah kulakukan hingga aku diperkenalkan pada sosokmu?
Ibadah khusus apakah yang telah kulakukan hingga a ku dipersatukan bersamamu?

Tahukah kau, aku berjuang untuk bisa bersamamu,
Tahukah kau aku berusaha sekuat dayaku agar bisa menerimamu,
Tahukah kau ada kalanya aku merasa tidak yakin
Dan
Tahukah kau aku mempertaruhkan masa depanku demi bersama dirimu?

Kini kutahu dirimu
Kau segala yang seharusnya kumiliki
Kau setiap doa yang seharusnya terkabulkan,
Dan
Kau semua yang seharusnya sebanding dengan penantianku

Tiada yang lebih indah dari mengenalmu
Tiada yang lebih suci dari memulai hubungan denganmu
Tiada yang lebih abadi dari menghabiskan hidup bersamamu

Bersiaplah karena akan datang masa
dimana kau mengetahui siapa aku dan aku sebaliknya
lalu mungkin akan datang hari
dimana kau tidak lagi tahan dengan kelakuanku dan aku sebaliknya

Tapi satu yang harus kau tahu

Kau adalah takdirku dan aku sebaliknya
Takdir tak bisa salah
kau adlaah kalimat pembuka dalam kisah hidupku dan aku sebaliknya
Maka kita yang akan membuat kalimat penutupnya
Kau adalah jodohku dan aku sebaliknya
Aku percaya jodoh hanya berakhir dengan kematian

Maka ingatlah ini,
Aku berjanji menjagamu, menjadi lengan kuatmu
Aku berjanji mendampingimu, menjadi bahu sandaranmu
Aku berjanji bersabar atasmu, menjadi hati yang pemaaf untukmu
Maka cintailah aku dan aku sebaliknya

By : N. Indah Susanti

A POEM FOR MY DEAREST BEST FRIEND AND HER HUSBAND WHICH SHE OFTEN CALL 'HUBBY'
Many thanks to Mba Nink...
for the care, tender, love for our fam.
ALLAH bless you all the time

WA Lt.11 jam 1.09 PM
3 April 2009, di Jumat siang
Powered By Blogger